Tuesday, October 29, 2002


Sebuah anugerah terbesar dari Allah SWT bagi manusia bahwa ia telah diberi kemampuan untuk berpikir. Ibnu Khaldun (Muqadimah) menyebutkan bahwa yang membedakan antara manusia dan hewan adalah kemampuannya berpikir sebagai sebuah sumber dari segala kesempurnaan dan ditegaskan kembali oleh William Ernest Hocking (What is man ?) bahwa manusia adalah hewan yang memiliki pikiran. Namun satu hal yang sangat disayangkan ketika saat ini mulai banyak orang yang kurang mau memanfaatkan anugerah tersebut dan terjebak dalam sebuah pragmatisme positivistik dimana selalu berusaha mengutamakan bertindak daripada omongan kosong dengan menolak atau menyingkirkan adanya perselisihan teoritis, debat tentang prioritas, pertengkaran ideologis, pembahasan nilai-nilai dan sebagainya karena dianggap sebagai omong kosong yang irasional. Akibat yang muncul adalah bahwa sebuah kenyataan saat ini jarang bahkan ada kesan takut orang-orang saat ini untuk berdiskusi terbuka, berdebat keras dan sebagainya untuk mencari sebuah solusi bersama. Selain itu juga membawa konsekuensi pada kondisi individu yang low analysis mechanism capability dimana seseorang tidak mampu melihat suatu masalah secara lebih luas ke dalam sistem yang lebih besar kemudian menurunkan ke tataran sistem yang lebih kecil untuk mencari suatu solusi dalam setiap masalah yang dihadapinya. Sangat disayangkan sekali apabila ada yang berpikir atau berasumsi jika sebuah dialektika merupakan sebuah kesalahan untuk menyelesaikan masalah karena menimbulkan perselisihan pendapat, pertengkaran ideologis dan sebagainya.

Kecenderungan lain yang muncul saat ini adalah fenomena berkembangnya pengidap paranoid schizophrenia dimana makin banyak orang yang irasional, tidak mau dibantah, merasa paling benar dan kecurigaan yang berlebihan. Sebuah hal yang wajar dari efek budaya sentralistik yang masih tradisional yang terbiasa dengan penjunjungan tinggi terhadap mitos, sakralisasi, mistifikasi, penyeragaman pola pikir dan doktrinasi loyalitas kepada pemerintah atau organisasi secara serba dogmatis yang meski sekarang masih banyak dilakukan. Akibatnya sering terjadi pengeliminiran proses berpikir kritis dan terjebak pada keyakinan bersama atas intepretasi-intepretasi dogmatis pribadi semata (taklid buta-red).

Apa jadinya bangsa ini kelak ??? ada pepatah lama mengatakan orang bodoh dengan kekuasaan akan lebih berbahaya daripada orang pandai dengan kekuasaan dan kliatanya itu sedang dialami bangsa ini entah sampai kapan. Bagaimana ngatasinnya ??? Ubah sistem, ubah kultur penguasa, dan perbaiki mental masyarakat. Mungkin kita permisif dengan keadaan kita saat ini, tapi apakah rela jika anak cucu bangsa ini juga mengalami hal yang sama dengan leluhurnya saat ini ??? So, apakah kita masih terus diam ????? Semua adalah keputusan tiap individu......

-= Keep Smilin`, LuV U =-