Seorang pemuda pergi berkelana selama bertahun-tahun mengikuti gerak langkahnya tanpa mengetahui dengan pasti apa yang menjadi tujuannya. Teriknya matahari di gurun gersang dan dinginnya malam di hutan rimba sudah menjadi hal biasa baginya. Indahnya lembah dengan sungai yang jernih pernah ia lalui dan kelamnya rawa berlumpur dengan bau yang menyengat pernah ia lintasi. Beberapa bekas luka menggores dan membekas di tubuhnya menjadi saksi perjalanan yang pernah ia jalani.
Perjalananya sampai di sebuah hulu sungai di bukit di pinggir sebuah kota. Ia terpaku dan langkahnya terhenti hingga akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di bukit itu. Dibangunlah sebuah gubuk kecil untuk tinggal dan ia memulai kehidupan barunya disana. Setiap beberapa hari ia pergi ke kota untuk menjual hasil keringatnya berkebun dan memelihara ikan dan membeli beberapa kebutuhannya. Pengalamannya selama ini membuat dia mampu menguasai berbagai keahlian dan jika di kota ia bertemu dengan orang yang kesusahan, tak segan-segan ia menawarkan diri untuk membantunya tanpa meminta imbalan apapun.
Suatu hari bertemulah dia dengan seorang wanita yang tampak murung dan bersedih. Dia menghampiri dan dengan sopan menanyakan apakah wanita itu mengalami kesulitan dan adakah yang bisa dia lakukan untuk membantunya. Wanita itu menceritakan permasalahannya dan pemuda itu memberikan beberapa saran yang akhirnya bisa membuat wanita itu kembali tersenyum.
Beberapa hari kemudian ketika pemuda itu kembali ke kota, ia bertemu kembali dengan wanita itu. Wanita itu menceritakan jika masalahnya beberapa hari yang lalu telah berhasil diselesaikan mengikuti saran pemuda itu. Mereka akhirnya menjadi akrab dan setiap kali pemuda itu ke kota, wanita itu menjumpainya dengan berbinar-binar.
Suatu hari, wanita itu menanyakan kepada pemuda itu "Apakah engkau mencintaiku ?". Pemuda itu menjawab singkat "Ya, aku mencintaimu". Wanita itu sungguh bahagia ketika cintanya bersambut. Waktu terus berjalan dan perjumpaan mereka hanya saat pemuda itu datang ke kota. Pada suatu hari, wanita itu mengatakan bahwa ia mencintai pemuda itu namun dia tak ingin meninggalkan kota yang selama ini telah memanjakannya dan memenuhi segala impian dan keinginannya. Pemuda itu hanya menjawab singkat "Aku tetap mencintaimu".
Setelah beberapa waktu berlalu, pemuda itu berjumpa lagi dengan wanita itu. Wanita itu mengatakan bahwa ada seorang pemuda yang baik dan kaya yang tinggal di kota yang mencintainya dan dia pun mencintai pemuda itu dan mereka merencanakan akan menikah dalam waktu dekat. Sang pemuda itu tersenyum sambil berkata "Aku tetap mencintaimu".
Wanita itu menikah dengan pemuda kota itu dan beberapa bulan kemudian melahirkan seorang buah hati yang cantik. Sang pemuda masih tetap hidup sebagaimana biasanya, namun tak pernah lagi bertemu dengan wanita itu setelah wanita itu menikah. Hingga pada suatu saat ia bertemu kembali dengan wanita itu sedang menggendong anaknya di sebuah taman kota. Wanita itu menyapanya dengan malu-malu dan pemuda itu membalas sapanya tanpa ada perbedaan dengan pertemuan terakhir. Wanita itu bercerita jika dia telah bercerai dengan suaminya karena ternyata suaminya berselingkuh dengan wanita lain. wanita itu meminta maaf jika pernah menyakitinya dan menanyakan apakah pemuda itu masih mencintainya. Pemuda itu hanya menjawab singkat "Aku masih mencintaimu".
Setelah beberapa minggu ketika pemuda itu ke kota, ia melihat wanita itu bersama lelaki dan tampak begitu mesra. wanita itu menghampiri pemuda itu dan mengatakan "Aku sudah bersama pemuda yang bertanggungjawab dan mencintaiku, ia tinggal di kota lain namun dia mau tinggal di kota ini karena dia mencintaiku. Kau tak perlu lagi mencintaiku".
Pemuda itu hanya tersenyum dan menjawab "Aku tetap mencintaimu".
Wanita itu membalasnya dengan sinis sambil menunjuk wajah pemuda itu "Engkau mengatakan mencintaiku namun engkau tak mau berkorban untuku, cintamu itu palsu karena mencintai berarti mau berkorban untuk yang dicintainya".
Pemuda itu hanya tersenyum dan kembali ke bukit.
Dua tahun berlalu dan si pemuda tetap menjalani rutinitasnya seperti biasanya. Ia mendapat kabar jika wanita itu telah menikah dan memiliki satu orang anak lagi. Banyak orang-orang di kota yang mengenalnya mengatakan kepadanya jika sebaiknya dia segera mencari istri dan tak perlu mengingat-ingat wanita yang telah meninggalkannya dan memperlakukan dia dengan buruk. Wanita itu sudah jauh berbeda dari yang dia kenal dahulu dan kabar terahir bahwa wanita itu kembali bercerai dan kini menjadi janda yang kaya raya. Wanita itu menjadi sombong karena kekayaannya dan tidak lagi ramah seperti dahulu.
Suatu hari ketika pemuda itu datang ke kota untuk menjual hasi kebunnya, ia kembali bertemu dengan wanita itu dan kini dengan dua orang anaknya berada di taman dengan wajah yang kusut. Pemuda itu menyapanya sebagaimana daulu tanpa berubah sedikitpun. Wanita itu menceritakan bahwa ia dikejar-kejar dan selalu diteror oleh mantan suaminya yang menginginkan hartanya setelah kalah berjudi. Tidak ada tempat aman lagi di kota itu baginya dan kedua anaknya. Wanita itu menanyakan apakah pemuda itu masih mencintainya dan memperbolehkannya tinggal bersama pemuda itu hingga keadaan aman. Pemuda itu menjawab singkat "Aku masih mencintaimu" dan ia memperkenankan wanita itu tinggal di bukit bersamanya.
Pemuda itu membuatkan sebuah tempat tinggal kecil di dekat rumahnya untuk wanita itu dan anak-anaknya. Pemuda itu memberinya segala kebutuhan wanita itu dan anak-anaknya meskipun wanita itu bukan istrinya dan kedua anak itu bukanlah anak-anaknya.
Beberapa bulan berlalu, wanita itu begitu ingin kembali ke kota. Setelah beberapa kali ke kota, wanita itu mengatakan pada pemuda itu jika ia telah menemukan seorang lelaki yang lebih baik dari pemuda itu dan memperbolehkannya tinggal di kota jika ia mau menjadi istrinya dan wanita itu menyetujuinya karena ia begitu rindu untuk tinggal kembali di kota. Akhirnya wanita itu kembali ke kota dan kembali hidup dengan segala keindahan dan kemewahan kota. Semua yang pernah ia alami seakan telah terlupakan dan ia menjalani kehidupan baru seperti kehidupan dia yang dahulu.
Orang-orang di kota mengatakan kepada pemuda itu bahwa ia begitu bodoh mau diperalat oleh wanita itu. Pemuda itu selalu tersenyum dengan setiap kata-kata itu yang didengar dari orang-orang kota. Hingga suatu hari dia mendapat kabar jika wanita itu ditinggalkan oleh suaminya yang menikah dengan wanita lain yang jauh lebih muda dan lebih cantik di kota lain dan Wanita itu diusir dari rumahnya. Ketika ia akan kembali ke bukit, ia bertemu dengan wanita itu di perbatasan kota. Wanita itu kembali meminta ijin untuk tinggal lagi di tempat pemuda itu untuk sementara waktu. pemuda itu tersenyum dan mengijinkannya.
Perlakuan sang pemuda kepada wanita itu dan anak-anaknya tidak berubah seperti dahulu. Setelah selesai bekerja, pemuda itu mengajak bermain anak-anaknya seakan mereka adalah anak-anaknya sendiri. Ia mengajarkan berbagai hal dan anak-anak itu menjadi begitu dekat dengan pemuda itu.
Akhirnya pada suatu hari wanita itu menghampiri pemuda itu.
"Apakah engaku masih mencintaiku?"
"Aku masih mencintaimu" jawab si pemuda.
"Mengapa engkau masih mencintaiku, bukankan selama ini hampir sepuluh tahun engkau mengenalku, aku selalu mengecewakanmu bahkan berulang kali aku menyakitimu?"
Pemuda itu hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan wanita itu.
"Aku tak mengerti, engkau selalu mengatakan mencintaiku namun engkau tak mau berkorban meninggalkan bukit yang sepi ini untuk tinggal di kota bersamaku. Bagaimana mungkin engkau mencintaiku jika engkau tak mau berkorban untukku?"
Pemuda itu hanya terdiam dan tersenyum tanpa menjawab apapun.
"Mengapa engkau tak menjawab satupun pertanyaanku ? Apakah selama ini kata-katamu hanyalah bualan dan sesungguhnya engkau tak mencintaiku lagi ? Dan engkau hanya mengucapkan kata-kata itu karena kau tak ingin tampak kecewa dan hanya untuk menghibur dirimu."
"Baiklah jika engkau berkeras ingin mengetahuinya. Aku masih mencintaimu dan itu sungguh dari diriku. Aku tetap mencintaimu meski engkau mengatakan telah menyakitiku berulang kali. Aku tetap mencintaimu meski engkau telah berubah dari yang aku kenal dahulu. Aku tetap mencintaimu meski engkau tak menyukaiku, kehidupanku dan cara hidupku. Aku tetap mencintaimu meski engkau mengatakan telah banyak melakukan hal buruk kepadaku atau kepada orang lain. Bagaimana mungkin aku mengatakan mencintaimu jika aku menuntut engkau ini maupun itu. Cinta itu tanpa syarat dan menerima yang dicintainya apa adanya, baik maupun buruknya, benar maupun kesalahannya. Dengan semua itu, bagaimana mungkin engkau bisa menyakitiku."
Wanita itu diam sejenak.
"Lalu mengapa engkau tak mau berkorban untukku dengan meninggalkan bukit ini untuk tinggal bersamaku di kota ? Bukankah mencintai harus bersedia berkorban untuk yang dicintainya ? Jika engkau mencintaiku dengan menerima apa adanya, tentunya engkau akan selalu membelaku meskipun aku bersalah ? bagaimana mungkin engkau akan menjadi suami yang baik jika membiarkan istrinya melakukan kesalahan ?"
Pemuda itu tersenyum kembali.
"Aku tak pernah mengerti bagaimana mungkin engkau bisa mencintai jika engkau merasa berkorban. Cinta dengan pengorbanan bukanlah cinta sesungguhnya. Pengorbanan hanya dilakukan oleh orang yang merasa mencintai bukan orang yang sungguh-sungguh mencintai dan pengorbanan hanya dilakukan karena ada suatu pengharapan akan sesuatu. Bagaimana mungkin engkau mengatakan mencintai jika ada hal lain yang diinginkan. Itu hanyalah cinta kosong yang tak bermakna"
"Aku melakukan segala sesuatu karena itu yang seharusnya dilakukan, bukan karena hal lain. Aku memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu karena itu adalah tanggungjawabku sebagai tuan rumah untuk menjamu tamunya, dan aku tak peduli apakah engkau membalas cintaku atau tidak karena itu adalah hal yang berbeda. Jika engkau bersalah, aku akan tetap mengingatkanmu karena tanggungjawab bagi siapa yang mengetahui harus menunjukkan jalan dan itu tidak mengubah cinta sesungguhnya. Aku mencintaimu apakah engkau bersalah atau tidak, apakah engkau membalas cintaku atau tidak atau apapun."
Beberapa saat suasana menjadi hening.
“Bagaimana engkau bisa mencintai sedemikian rupa ?” wanita itu berkata lirih.
Pemuda itu hanya tersenyum tanpa satu kata meluncur dari bibirnya. Dalam hatinya ia berbisik “karena aku ingin mencintai seperti Sang Kekasih mencintai kekasihNya meski kemanapun kekasihNya pergi bahkan berpaling darinya dan apapun yang telah dilakukan kekasihNya, Dia selalu mengatakan ‘Aku tetap mencintaimu.’”.