Tumben²nya hari itu begitu dingin, angin bertiup kencang dan hujan ndak brenti². Hari itu Pakdhe pulang malam setelah lembur di kantor, maklum akhir tahun kerjaan numpuk dan deadline makin mendekat. Sesampainya di rumah, badan Pakdhe basah kuyup karena di jalan tadi, ban mobilnya bocor dan mau ndak mau harus turun tangan ngganti ban mobil. Melihat juragannya basah kuyup, pembantu di rumah Pakdhe buru² mengambilkan handuk untuk Pakdhe.
“mBul, tolong masakin air buat saya mandi ya, habis itu tolong juga buatin saya teh manis hangat...tapi jangan kemanisan ya ?”
“Oh, iya Pak..segera saya laksanakan”
“Matursuwun mBul”.
Kurang lebih lima menit, Pakdhe masuk ke kamar mandi dengan membawa handuk dan pakaian ganti. Melihat juragannya seperti sudah bersiap² untuk mandi, pembantu Pakdhe langsung buru² menemui Pakdhe.
“Wah, maaf Pak...airnya blum panas”
Pakdhe cuman tersenyum…”Knapa juga kamu harus minta maaf ? Lha wong kamu ndak salah koq”
“Lho...anu Pak...anu...kan Bapak tadi minta saya masakin air buat mandi, saya masakin pake panci besar dan sekarang belum panas Pak”
“Olalah mBul...mBul...Gusti Allah aja Yang Masa Kuasa & Bisa Segala²nya aja perlu waktu 6 hari untuk bikin alam semesta, gimana kamu bisa manasin air sepanci besar dalam waktu tiga menit. Nek udah satu jam ndak jadi², itu baru kebangetan sampeyan.” Jawab Pakdhe sambil tersenyum. ---e----
Bukankah ndak sulit buat Gusti Allah bikin alam semesta lebih cepat dari kejapan mata, atau ndak perlu 9 bulan untuk menjadikan seorang bayi ? Bahwasanya semua hal-hil terjadi dengan sebuah proses dan semua proses itu butuh waktu. Harapannya sampeyan bisa mengambil pelajaran dari proses itu.
Dalam tiap² proses itu tersimpan hal-hil yang tidak ternilai, dan hal-hil yang tak ternilai itu adalah yang gratis dan yang ndak bisa diusahakan datangnya. Lho gimana tho ? kbalik ndak tho itu ? Bukannya semakin mahal mobil, itu semakin bernilai ? Bukannya semua itu bisa diusahakan, asal mau usaha ?
Bernilai itu kan masih memiliki nilainya, kalo tak ternilai itu dah ndak bisa diitung lagi nilainya. Sampeyan untuk dapet air bersih kudu mbayar ke PAM, karena air bersih masih bernilai. Tapi sampeyan ndak perlu mbayar udara untuk bernapas seperti biasa karena udara itu tak ternilai.
Sampeyan bisa makan makanan apapun, tapi sampeyan kan ndak bisa mengusahakan rasa lapar tho ? Nikmatnya makan yang sebenarnya kan bukan pada apa yang sampeyan makan, tapi mengobati rasa lapar itu dengan makan. Sampeyan bisa saja leyeh² atawa gegoleran seenak udel sampeyan, tapi sampeyan ndak bisa mengusahakan rasa kantuk itu. Yaaa...bgitu juga bahwasanya sampeyan bisa ngeladenin orang, bisa ngerawat orang, ngasih apapun ke orang, tapi sampeyan ndak bisa mengusahakan rasa cinta dari orang itu.
Kembali lagi ke masalah tentang proses tadi. Memang sudah dasarnya manusia itu seneng yang instan, cepet jadi, ndak mau susah, ndak mau nunggu dan grusa-grusu, udah gitu ditambahin selalu punya keinginan yang muacem², beraneka ragam dan buanyak. Dengan akalnya, manusia terus berpikir mencari solusi untuk semua sifat²nya itu, lalu munculah yang dinamakan teknologi yang semakin hari semakin cuanggih, rumit dan tentunya memunculkan masalah baru. Kombinasi hal-hil diatas akhirnya seringkali membuat manusia berusaha menyederhanakan masalahnya dengan apa yg dianggapnya instan, siap saji dan kembali ke masalah materi...asal bisa bayar, urusan selesai. Akhirnya proses menjadi hal yang ndak penting lagi yang mengakibatkan hilangnya sari pati, inti, dan makna yang terkandung dari proses itu yang justru itu merupakan hal-hil yang tak ternilai.
Tentunya masih inget tho gimana kisahnya Siti Maryam yang bisa mengandung dan melahirkan anak tanpa suami/lelaki yang membuahinya. Manusia yg demen dengan hal instan, begitu sama Gusti dikasih satu contoh bahwa Beliau bisa saja melakukan hal yang instan tanpa proses yang berlaku pada umumnya dalam sudut pandang manusia, malah bikin bingung manusia sendiri tho ? Padahal itu baru satu proses yang dilewati sama Gusti, yaitu menghilangkan satu proses pembuahan oleh seorang laki². Klo tiba² ada manusia muncul dari tanah...wah bisa gila semua manusia yg ada.
Yaa..bgitulah yang namanya nafsu, tipuan terbesarnya adalah senantiasa menyuarakan dalam batin manusia berbagai macam jeritan keinginan secara terus menerus hingga manusia yang bersangkutan meyakini itulah yang menjadi kebutuhannya yang harus dipenuhi, namun ketika keinginan itu terpenuhi, suara jeritan batin itu ndak kunjung hilang. Yang sesungguhnya menjadi kebutuhan adalah sumber dari jeritan² itu, sedangkan manusia pada umumnya disibukkan untuk memenuhi hasrat jeritan itu, bukan berusaha mencari sumber jeritan itu dan menghilangkannya.
Lho, klo gitu gimana cara menghilangkan sumber jeritan batin itu ?? Hehehe...sampeyan koq ya tetep keukeuh pengen yang instan² saja. Sampeyan belajar dulu deh untuk menghargai yang namanya proses sampai bisa mengambil makna dan pelajaran yang terkandung dari proses itu. Sampeyan akan dapat jawabannya dari situ, toh Beliau sudah memberikan kepada sampeyan anugerah akal, hati nurani dan berbagai petunjuk dalam berbagai Teks Suci melalui utusan²Nya. Sekarang tinggal gimana sampeyan memanfaatkan semua itu yang dimulai dari membersihkan akal dan hati nurani agar suara Beliau melalui akal dan hati nurani bisa sampeyan dengar, ndak tertutup sama suara dunia yg biasanya terdengar lebih merdu dan memabukan sehingga sampeyan lebih memilih untuk tetap tidur dan bermimpi daripada sadar dan terjaga. Wallahualam.