Sunday, May 23, 2010

Rotiku lebih hebat dari rotimu

Sungguh indah dini hari yang belum juga memberi tanda² kelahiran pagi hari, malah semakin sibuk bagi² bonus hujan dan angin yang lumayan bikin ngadreregdeg alias menggigil orang² di pasar yang sudah “nyaman” dengan sensasi keharuman aroma yang khas dari campuran daging, ikan baik basah maupun kering-asin, air rendaman jengkol, sayuran busuk dan tambahan sedikit aroma telur pecah.

Di antara keramaian dan semerbak aroma yang khas itu, ndak sedikit yg juga harus membawa anak² mereka bersama mereka. “Ya gimana lagi Mas, lha wong bapak sama ibunya memang hidupnya di pasar. Daripada ditinggal sendirian di rumah, kasihan masih kecil.” Kurang lebih begitulah pendapat mereka. Terkadang anak² itu tertidur, dan ndak jarang bermain² bersama anak² yg lainnya. Semua kondisi yg seringkali dibilang buruk oleh orang kota, ndak mempersulit mereka untuk tetap menikmati hidup dan berbahagia.

Dini hari itu disuguhi kopi susu hangat dan tahu goreng yg masih ngebul sama tukang kacang panjang sambil nunggu dia ngumpulin dan ngitung semua belanjaan. Di sebelah, anak² pedagang ndak kalah ramainya dengan perbincangan mereka sendiri seakan ndak terjadi apa² di sekitar mereka. Tertarik dengan keramaian mereka sendiri, iseng² tak perhatiin tingkah laku mereka yang polos itu.

Wuah, ternyata mereka lagi sibuk mainan biskuit yang bentuknya macem², ada yg gajah, ikan, dan bentuk hewan² yg lucu² tentunya. Yg pegang gajah memamerkan kelebihan gajah, yg pegang ikan memamerkan kehebatan ikan dan semua berakhir naas bagi hewan² itu yg jadi remah² di mulut mungil mereka. Jadi teringat dulu waktu masih SD suka nungguin tukang jualan kembang gula yang dibuat dari gula merah yg sedikit lembek trus dibentuk macem² oleh penjualnya. Dulu begitu seneng melihat bentuk² lucu itu yg mengalahkan kekecewaan karena ndak punya uang utk membelinya.

Kalaulah dipikir², kurang lebih begitulah gambarannya orang² yang saling memamerkan kehebatan ajaran masing², dari yg beragama sampai yg atheis sekalipun. Ndak cukup sampai disitu, yg satu sumber ajaran pun ikut saling mengunggulkan alirannya masing². Oalah Gusti, semoga Panjenengan senyum² geli seperti saya menyaksikan ini semua.

Mungkin memang sudah garisNya, klo dulu harus ngalamin semua kejadian yg dari sudut pandang saat ini ternyata begitu indah. Pada akhirnya sekarang bisa melihat dan merasa semua itu lucu bahwasanya orang atheis sibuk mempertanyakan sesuatu yang ndak bisa dijelaskan, sementara di samping itu, orang yg beragama ndak kalah sibuknya berusaha menjelaskan kepada orang atheis tentang sesuatu yang memang ndak bisa dijelaskan.

Sepengetahuan saya sampai dengan bergeraknya jarum detik saat ini, semua gambaran sifat²Nya dan sebutan²Nya dalam Teks² Suci hanyalah petunjuk dari Beliau kepada ciptaanNya dalam memberikan sangkaan tentang keberadaan Beliau. Oleh karena itu Beliau memberikan kata Maha untuk menunjukkan ketidakterbatasan Beliau. Adakah yang bisa menjelaskan dimana titik ujung dari tidak terhingga atau tidak terbatas ? Jadi bagaimana bisa menjelaskan Beliau yang sesungguhnya ? Bukankah membuat definisi itu berarti memberikan batasan ?

Ya begitulah miturut saya melihat orang semakin rame meributkan Hal yang mereka sendiri sebenarnya seperti halnya saya…..ndak tau Hal Sesungguhnya. Ada yang tahu klo dia tahu, ndak tahu klo dia tahu, tahu klo dia ndak tahu dan ndak tahu klo dia ndak tahu….nah kebanyakan tahu memang bikin mumet.

Masing² merasa yang dimilikinya adalah yang paling hebat, paling benar dan jadi sibuk mempertahankannya sampai² lupa mengambil makna dan mencapai tujuan yang seharusnya dituju dari maksud Beliau memberikan petunjuk² itu. Petunjuk udah dianggap tujuan, bukan sekedar sarana untuk mencapai Tujuan Sesungguhnya.

Klo bgitu ya damai² saja, ndak perlu ribut² dan manut² saja deh..toh hidup kita kan sudah tenang dan damai...yang penting kita jalankan ajaran dengan baik dan benar. Kalo mengenai hal itu, jadi ingat gimana cerita dulu Kanjeng Nabi SAW ‘dipaksa’ belajar membaca sama malaikat Jibril. Padahal, apa gunanya Kanjeng Nabi SAW pada waktu itu bisa membaca ? Lha wong ndak perlu bisa mbaca udah hidup makmur, punya keluarga yg menyayanginya, ndak merugikan orang lain dan jauh dari apa yg orang bilang sebagai kesulitan hidup di dunia. Begitu Kanjeng Nabi SAW bisa mbaca...lho malah kelihatannya jadi susah, dikejar² dan menjadi buronan kaumnya sendiri, dihina dan dicaci dan begitu banyak kesulitan lainnya.

Kurang lebih itulah gambaran bahwasanya manusia harus terus mencari tahu Kebenaran, bukan sekedar memilih adem ayem karena merasa sudah tahu, namun sesungguhnya itu hanyalah ilusi akibat dari ketidaktahuan. Menaruh kambing di dalam perpustakaan kan ndak akan menjadikan kambing jadi pintar, begitu juga Teks Suci pun merupakan petunjuk jalan berbentuk buku yang tebel² namun juga bisa cuman dijadikan sebagai bantal pengganjal kepala. Bahwasanya shalat, zakat, puasa, shadaqah bahkan haji berkali² itu sebatas alat bantu untuk mencapai Tujuan dan sangat disayangkan dengan anugerah akal dan hati dari Beliau jika yang dilakukan semata hanyalah gerakan fisik tanpa ada gerakan batin. Dan sebagaimana Kanjeng Nabi SAW, jalan menuju Kebenaran memang bukanlah jalan yang mudah dilalui apalagi hasilnya pun belum tentu menguntungkan secara materi sebagaimana pada umumnya manusia selalu menimbang untung rugi materi dalam mengambil setiap keputusan hidup.

Seperti halnya pengalaman Kanjeng Nabi SAW, perjalanan ini bukan hanya perpindahan fisik sebagaimana ‘Isra, tapi juga ada Mi’raj yang membawa hati yang bersih dari riya dan penuh dengan ikhlas terbang menuju kedekatanNya. Nah, membuat hati bersih dan ikhlas ini adalah perjuangan dan perjalanan yg berat dan begitu buanyak tantangan, hambatan, gangguan dan godaannya.

Namun semua kembali bagaimana keyakinan masing²...setidaknya itu yang saya yakini dan usahakan. Seperti pepatah orang Namibia, Momeya ihamu ingenge owala, air tidaklah mengalir dengan sendirinya, semua terjadi karena ada sebabnya. Posisi kita sekarang dalam "perjalanan" ini, tentu bukan semata² diposisikan oleh Beliau begitu saja karena Beliau sudah memberi petunjuk, sarana akal dan hati serta berbagai kemudahan buat kita dalam menuju kepadaNya, jadi carilah tahu sebabnya mengapa kita masih berada di posisi tersebut. This is a long journey, so there will be a long story too...this is never ending story. Wallahualam.