Di hujan gerimis malam itu, seorang pemuda berjalan menyusuri aspal basah kembali ke rumahnya setelah sebulan berkelana dalam peperangan yang bukanlah pertempurannya. Ganasnya gurun tandus, desingan peluru dan dentuman granat tak terasa kali ini. Kali ini dia kembali lagi dengan selamat. Entah apa lagi yang dia bawa dalam kepulangannya yang sementara. Kerinduan akan kehangatan saudara dan sahabat²nya yang selalu mengiringinya ketika bahagia dan mendukungnya ketika masa² sulitnya tiba, hanya itu yang dia rindukan. Darah dan air mata bukan lagi hal yang asing baginya selama ini, dan semakin menyadarkan bahwa dirinya jauh lebih beruntung dari mereka yang dia saksikan dalam hari²nya yang lalu. Satu tusukan dalam di ulu hati yang pernah dia dapatkan, kini seakan hanya sebuah gores kecil yang tak berarti.
Sebuah senyum mengembang di wajahnya, hari ini dia masih bisa bertahan. Tiada yang akan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Akan ada pertempuran lagi yang harus dia hadapi, namun bukan saat ini. Dia hanya ingin menikmati apa yang ada saat ini, karena tiada yang akan mengetahui apakah esok masih ada. Engkau telah kembali, kali ini maut belum ingin menemuimu. Dia akan datang dan pasti akan datang, dan pemuda itu ingin menyambutnya dengan senyuman......senyum bahagia untuk Sang Kekasih.