Friday, March 09, 2007

Pengemis oh pengemis

Gw sedih ketika ada seorang teman menyarankan tidak perlu memberi pada pengemis dengan alasan untuk membuat mereka tidak malas dan mendorong mereka mencari kehidupan yang lebih baik. Pertanyaan gw untuk dia hanya sederhana yang tidak perlu dijawab dengan kata², tanyakan pada hati apakah kita sudah berbuat adil dalam mengatakan anjuran tadi ?? Benarkah kita tidak memberi untuk tujuan demikian, atau karena jika kita memberi pengemis, tidak memberi manfaat langsung kepada kita ?? Karena bukankah kita lebih suka memberi polisi uang "damai" agar kita lolos dari hukum, kita memberi "hadiah" atau "uang lelah" pada petugas birokrasi agar urusan kita dipermudah sementara kita yakin mengetahui mereka punya pekerjaan yang lebih terhormat daripada pengemis, punya penghasilan lebih baik dari pengemis, punya pendidikan lebih tinggi dari pengemis ?? Benarkah mereka mengemis karena mereka malas ?? Lebih malas siapa dengan kita yang menuntut bayaran tinggi namun menganggap enteng tanggungjawab yang kita miliki ??

Argumen yg terdengar baik muncul. "Justru karena blum bisa berbuat banyak, maka setidaknya kampanye itu jadi usaha untuk membantu mereka". Gw tidak menyalahkan jika tidak memberi, namun gw lebih menghargai mengatakan demikian jika udah berlaku adil. Gw memang ga memberi setiap pengemis di tiap lampu merah, gw ga ngasih makan tiap pengemis yang lewat di depan rumah. Gw blum sanggup untuk berbuat banyak untuk menolong mereka keluar dari kemiskinan mereka, namun gw tahu jika gw mengatakan hal yg seperti temen gw katakan, gw dah berbuat ga adil dan gw justru menyakiti mereka dengan kata² itu. Jika ga tahu dengan benar fakta yang ada lalu tidak menolong mereka mengentaskan kemiskinan, membebaskan penindasan dan ketidakadilan yg mereka alami, melepaskan kebodohan yang merundung mereka, janganlah menggunakan alasan yang terdengar baik dam mulia untuk menutupi kekurangan dan kesalahan atau bahkan mungkin ketidakpedulian terhadap mereka yg tertindas dan kekurangan. Skali lagi tanyakan pada hati apakah itu sebuah kejujuran dan kesadaran berdasar fakta yang benar atau sebuah pembenaran belaka ?? Benarkah mereka miskin karena malas ?? Atau karena keserakahan dan ketidakpedulian kita yg mampu ?? Yang merasa semua kenikmatan didapat dari menempuh pendidikan yg tinggi, kerja keras tak kenal lelah sehingga bisa bekerja pada tempat terhormat dan penghasilan yang tinggi. Apakah di negri ini, anak kecil yang lahir di kolong jembatan punya kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan atau fasilitas kesehatan seperti mereka yang lahir di rumah sakit mewah dan memiliki orang tua dengan kekayaan melimpah ?? Adilkah kita ?? Tanyakan pada hati apakah hati kita tidak sakit jika kita menjadi menjadi mereka yg tidak mendapat kesempatan sama dengan kita saat ini yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang fasilitas lengkap bahkan mewah ??

"Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu ? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap ni'mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan." (Ad Dluha 6-11)

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna." (Al Maa'uun 1-7)

Mungkin karena ilmu gw masih rendah, jadi gw cuman pake dasar yang gw tulis diatas. Gw yakin Quran itu pasti benar namun, pengetahuan gw masih cetek, kli ajah pendapat dan penafsiran gw salah. Setidaknya, pendapat gw itulah yg saat ini gw yakini benar dan gw mengatakan bukan semata karena orang di sekitar gw mengatakan hal demikian, namun dengan keyakinan dan dasar yg jelas.

"Lidah seorang mukmin berada di belakang hatinya, sementara lidah bukan mukmin berada di depan hatinya" demikian sepenggal kata² yg penuh makna dari seorang Ali bin Abi Thalib yang dia pelajari dari Rasulullah SAW. Maksudnya kurang lebih bahwa seorang mukmin akan selalu berpikir terlebih dahulu sebelum dia berkata², mukmin selalu berhati² mengeluarkan kata² dan dia sesuaikan terlebih dahulu apakah bertentangan dengan hatinya atau tidak. Jikalau dia tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan dikatakannya, dia akan memilih diam, namun jika dia mengetahui maka dia akan mengatakannya dengan jujur. Sementara bukan mukmin akan selalu mengumbar kata² tanpa perlu menyelidiki benar atau salahnya, dia mudah terbawa oleh keadaan sekitarnya dan yang dikatakannya bukanlah dari hatinya, namun bagaimana sekitarnya. Dia mencari aman dengan kata²nya, bukan dari azabNYA, namun dari kekejaman dan kehinaan dunia. Dia tidak peduli apakah orang yg mendengar kata²nya tersakiti atau tidak.

Nah, salah satu manifestasinya kurang lebih yang sering terjadi adalah kata maaf dan tobat. Jika kembali bertanya pada hati kecil, benarkah setiap maaf dan tobat yg kita ucapkan dan kita lakukan itu keluar dari hati kecil ?? Menurut yg lebih ahli, namanya maaf atau tobat bisa jadi itu sebagai sebuah proses pembelaan diri atau mempertahankan diri karena terpojok dengan situasi yg kurang mendukung atau kurang menguntungkan kita, dan pada saat itu semua maaf dan tobat itu kering dan tak bermakna. Maaf atau tobat jika memang bermakna dan dilakukan sepenuh hati akan mencegah orang mengulangi kesalahannya, semua akan terpancar dari perbuatannya. Semoga gw ga melakukan itu dan ada kata² orang tua dulu yg menurut gw bagus untuk dijalankan tentunya, bukan dihafalkan...."jangan pernah menyimpan dendam, sakit hati karena itu akan menyakiti orang yg menyakiti kita dan diri kita sendiri. Selalu memaafkan siapapun yg menyakiti atau berbuat salah meskipun orang yang menyakiti atau berbuat salah itu tidak meminta maaf kepada kita. Sesungguhnya hidup akan selalu terasa ringan jika tak menyimpan dendam, sakit hati dan tidak menuruti ego dan hawa nafsu".

Setiap yang diberikan 4JJI kepada kita semua akan dimintai pertanggungjawaban. Jika kita tahu ada tanggungjawab dan kebenaran yang harus kita tunaikan, maka kita wajib menunaikannya. Jia ingin melepaskan tanggungjawab itu sangatlah mudah caranya, yaitu tinggal menunggu waktu saja karena maut pasti akan datang menjemput dan disaat itulah manusia terlepas dari setiap tanggungjawab dunia. Surga atau neraka itu tak ada yang tahu pasti siapa yang mendapatkannya, namun maut adalah suatu yang udah pasti dihadapi setiap yang bernyawa di dunia ini.

Buku yg gw baca emang blum banyak, ilmu gw pun masih sedikit. Namun gw ngerasa beda ketika membaca suatu kebenaran atau nasehat dengan hati dan dengan tanpa hati. Kata² seperti tadi tidaklah berarti apa² dan sangatlah sepele ketika hati tak ikut membaca, namun akan berbeda makna ketika hati ikut membacanya. Dan semua itu gw alami sendiri dan ga bisa gw terjemahkan mengapa semua menjadi seperti ini. Mungkin itulah yg didapat dari proses yg dijalani dan gw makin yakin jika semua yang dijalani manusia tidaklah sekali jadi. Semua adalah proses dimana tiap tahap atau kejadian memiliki makna pelajaran dan hikmah yang berbeda². Banyak hal yg dulu gw benci ternyata justru itu yang baik dan membawa manfaat, apa yg gw sukai ternyata itu bisa membawa kerusakan. Gw sekarang sadar klo gw dari dulu selalu sulit untuk menolak dan berusaha menuruti keinginan orang yg gw sayangi karena rasa sayang gw kepada mereka dan ternyata tidak selamanya benar. Bagaimana gw akan melindungi mereka dan membimbing mereka jika gw membiarkan mereka terjerumus pada kerusakan hanya karena gw takut membuat mereka bersedih atau kecewa ke gw atau dianggap tidak menuruti keinginan mereka.

Tak ada larangan untuk mencari kesenangan, tak ada larangan untuk menikmati hasil jerih payah kerja keras kita, tak ada larangan menikmati kekayaan dan kenikmatan dunia lainnya tak ada larangan untuk refreshing ke mall atau tempat rekreasi, namun jika sudah berlebihan seperti melakukannya setiap ada waktu luang atau bahkan seakan ada yg kurang jika kita ga melakukannya di waktu luang kita, itu tidaklah bisa dibenarkan. Banyak ketidaksukaan gw yg dulu gw pikir bikin gw malah bikin kecewa temen atau bahkan sesesorang yg gw sayangi, namun sekarang gw sadar klo ternyata gw dibantu olehNYA dengan ketidaksukaan gw itu dari cara² hidup berlebihan yg sangat tidak disukaiNYA. Dulu gw melakukan (jalan² ke mall, FO atau kemana pun yg bukan karena kebutuhan dan berlebihan-red) karena memang semata gw tidak menyukainya, namun sekarang gw makin yakin dengan alasan yg kuat untuk melakukan hal hal² seperti itu secukupnya dan sesuai kebutuhan. Gw pikir semua ini ga perlu gw katakan ke siapapun termasuk ke dia, karena daripada harus membuat orang mematikan hati nuraninya atau menaikkan egonya karena paling juga yg didapat...."Ah, itu siy emang dasarnya ga gaul" atau "Ke mall atau ke FO itu juga salah satu kebutuhan". Bukankah saat ini segala sesuatu bisa dibuat pembenarannya ??

Ya 4JJI, ampuni aku atas apa yang ENGKAU ketahui tentang aku lebih dari yang aku tahu. Andai aku kembali pada dosa²ku, ENGKAU kembali mengampuni. Ya 4JJI, ampuni aku atas apa yang telah aku janjikan kepada diriku sendiri namun ENGKAU tidak mendapati janji itu aku penuhi. Ya 4JJI, ampuni aku atras yang dilakukan lidahku, yaitu berupaya untuk dekat padaMU namun hatiku menentangnya dan tak melakukannya. Ya 4JJI, ampuni aku atas setiap kedipan mata, ucapan keji, hasrat hati dan salah kata. Amiin.


================= || =================



Skali lagi, maaf atas smua kesalahan gw dimasa lalu dan saat ini dan mungkin seterusnya gw ga akan lagi menghalangi dia menuruti tiap kesenangannya, melakukan semua yg dia inginkan, mengoreksi tiap yang dikatakannya atau apapun yang menjadi kehendaknya. Sesungguhnya bagi gw, gw lebih memilih tidak bisa menuruti tiap kesenangan dan keinginan dia daripada dianggap selalu membahagiakan dia karena dapat menuruti tiap keinginan dia sementara sesungguhnya gw justru membiarkan dia dan menjerumuskan dia pada hal² yg kurang baik dan menjurus pada laknatNYA. Mungkin hal ini yg terakhir yg bisa gw berikan untuk dia agar dia bisa bahagia seperti yg dia harapkan. Smoga dia ga akan lagi mendapatkan semua yg pernah dia alami bersama gw agar dia senantiasa bahagia dan bisa tercapai semua keinginan dan kesenangannya.

Temen gw bilang terkadang kita baru menyadari sesuatu itu berharga setelah kita kehilangan sesuatu itu. Gw mengakui itu benar meski ga jarang ego kita menghalangi kita mengakuinya. Teman gw bilang jika mencintai seseorang yg kita sayangi adalah kesalahan, maka cinta sejati akan memilih untuk tetap berbuat kesalahan. Dan untuk hal ini gw menolaknya. Semoga ini awal dari terkabulnya keinginan dia dulu ketika dia menginginkan gw pergi sepenuhnya darinya. Amiin.