Jaman dahulu kala ada seorang prajurit istana menemani sang raja memburu naga jahat di hutan yang masih penuh dengan binatang buas. Prajurit itu berjalan paling depan untuk membuka jalan yang penuh semak belukar beracun. Hingga pada suatu langkahnya, kaki kiri dan tangan kanannya yang memegang pedang digigit oleh beberapa ekor ular yang sangat berbisa. Seketika kaki kiri dan tangan kanannya mati rasa. Beberapa temannya mengikat erat kaki dan tangannya agar racun tidak menjalar ke bagian tubuh lainnya.
Tak jauh dari tempat itu ada sebuah gubuk dan dia diletakkan di gubuk itu. Dia meminta rombongan untuk terus melanjutkan perjalanan agar naga jahat bisa segera dilenyapkan agar negara menjadi aman. Sebelum pergi, sang raja meninggalkan pedang emasnya yang begitu indah kepada prajurit itu. Prajurit itu begitu takjub begitu melihat pedang emas raja hingga dirinya lupa dengan sekitarnya tak mampu lagi mendengar dan melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya. Bahkan perkataan raja tak terdengar olehnya karena ketakjubannya melihat pedang emas itu.
Ketika tersadar, dia tak melihat lagi rombongan raja dan melihat di sekitarnya telah disediakan air minum, makanan dan setumpuk kayu yg bisa dia gunakan untuk membuat perapian untuk beberapa hari. Matanya terus terantuk pada pedang emas milik raja yg tergeletak disisinya. Hatinya begitu berbinar2 dan menyangka bahwa raja memberikan pedang emas itu kepadanya sebagai penghargaan atas pengabdiannya. Ketakjubannya pada keindahan pedang itu membuat dirinya lupa dengan luka dan racun di kaki dan tangan kanannya.
Tiga hari berlalu dan dia dengan setia menjaga, merawat dan selalu membersihkan pedang itu agar kilaunya tak berkurang. Saat siang hari tiba datanglah rombongan raja yang telah berhasil membunuh naga jahat.
"Baginda, pedang emas Baginda masih saya jaga dan kilaunya tiada berkurang. Terimakasih atas anugrah dari Baginda ini. Mohon ampun saya yang belum sempat berterima kasih kepada Baginda pada waktu yang lalu"
Baginda raja tersenyum. "Wahai pengawalku yg setia, selama ini engkau selalu berusaha mengabdi kepadaku dan selalu berprasangka baik kepadaku. Namun sebagai perwira yang memiliki kecerdasan, dirimu cukup cerdas untuk membuat hal² yang bodoh".
"Maafkan saya Baginda, namun apa yang maksud Baginda saya tidak mengerti"
"Apakah tak kau perhatikan kaki dan tanganmu ?"
Prajurit itu kaget ketika melihat kaki dan tangannya yang digigit oleh ular. Dia tidak tersadar bahwa selama ini dirinya terlalu terpukau dengan pedang itu hingga lupa mengobati lukanya yang telah membusuk.
"Maafkan saya Baginda, sungguh saya selama ini begitu takjub dengan pedang yang Baginda berikan kepada hamba. Siang malam saya jaga dan saya rawat pedang tersebut dengan segenap jiwa raga saya hingga saya tak mempedulikan lagi luka² hamba."
"Itulah kebodohanmu pengawalku. Engkau terlalu terpaku pada pedang itu hingga engkau tak mempedulikan petunjuk yang aku berikan sebelum kepergianku. Pedang itu adalah pedang yang terbuat dari emas murni yang tidak akan berekasi dengan segala jenis racun di dunia ini. Aku tidak pernah memberikannya kepadamu, aku meminjamkan kepadamu untuk merobek kulitmu yang terkena gigitan ular agar darah yang mengandung racun bisa kau keluarkan. Pedang yang kau miliki telah terkena banyak getah dan racun tanaman yang jika kau gunakan akan justru menambah parah lukamu. Aku meminjamkan kepadamu hingga aku kembali dari peperangan, dan sekarang aku akan mengambilnya kembali. Pedang itu terlalu berharga untuk engkau miliki dan engkau simpan, karena pedang itu dapat memberikan pertolongan bagi orang banyak."
"Maafkan hamba Baginda, Bagaimana dengan luka ini Baginda ? Apakah pedang itu masih bisa menyelamatkan kaki dan tangan hamba ?"
"Baiklah, biarkan pedang itu melakukan apa yang terbaik bagi dirimu"
Tiba² pedang itu melayang dan memotong kaki dan tangan prajurit yang telah nyaris membusuk itu.
Prajurit itu begitu kesakitan. Pedang itu kembali kepada Baginda Raja dan dia harus kehilangan kaki kiri dan tangan kanannya. Namun jiwanya terselamatkan dari racun yang ada dalam tubuhnya. Kini prajurit itu harus menjalani sisa kehidupannya tanpa satu kaki dan satu tangan akibat kebodohannya sendiri.
Prajurit itu terus mengabdi pada raja dan belajar untuk lebih memperhatikan dan waspada. Dia menyadari geraknya sudah tak mampu selincah dahulu, dia pelajari berbagai macam pengetahuan hingga membuatnya jauh lebih bijak dalam bertindak. Hingga suatu hari ketika dia kembali ke rumahnya, pedang emas itu telah berada di dalam rumahnya dengan selembar kertas tertulis "Kali ini pedang ini kupercayakan kepadamu untuk merawatnya". –é--
Penyesalan selalu datang, namun rasa syukur dia mampu mengubur penyesalan. Apalah artinya jika pedang itu menjadi miliknya namun pada akhirnya dia tak sanggup untuk menjaganya, menggunakannya dengan benar dan lebih buruknya lagi...dia tak akan memiliki waktu untuk memilikinya lebih lama, karena maut akan segera menjemputnya jika tak secepatnya dia tersadar akan racun dalam tubuhnya.
Seringkali diri kita begitu senang dengan apa yang dititipkan Gusti pada kita, namun ndak jarang kita ndak mau berusaha mengerti apa yang menjadi alasan sebenarnya Gusti menitipkan hal itu kepada kita. Ndak jarang juga koq spertinya kita dititipi sesuatu yang spertinya indah, baik dan begitu kita sayangi...namun koq akhirnya malah bikin sakit, perih, nyeri bahkan sengsara.
Seringkali kita salah tangkap maksutnya Gusti, mangkanya Gusti menjadikan manusia makhluk yang bisa belajar plus dilengkapi fasilitas akal dan penunjuk jalan berupa hati yang harus rajin² diasah, dibersihkan dan dijaga biar tetap kinclong. Yang jelas, apapun yang sesungguhnya dimaksut adalah yang terbaik buat diri kita untuk saat itu atau untuk suatu saat nanti, meskipun pahit, perih, sakit yang terasa...itu tinggal bagaimana sudut pandang yang dititipi sesuatu itu.
Tentunya prajurit itu begitu dongkol, dah ngerawat pusaka yang begitu indah dengan segenap jiwanya...eeee..malah pusaka itu yang mengeksekusi kaki dan tangannya. Tapi setelah melihat lebih teliti...ternyata pusaka itu yang menyelamatkan dia dari bencana yang lebih besar.
Tentunya sudah fitrahnya manusia berbuat kesalahan, namun berbeda dengan kerusakan. Kesalahan mungkin ndak akan meninggalkan bekas yang bisa dilihat oleh orang lain, namun setiap kerusakan akan meninggalkan bekas. Bisa jadi itu hanya "goresan" kecil...namun bisa jadi itu menjadikan sampeyan "cacat" permanen yang akan mengubah cara pandang orang lain terhadap diri sampeyan. Bekas² luka dan cacat itu bukan untuk diumbar², tapi juga ndak diingkari adanya. Apakah sampeyan masih membenci dan risih dengan bekas luka & cacat itu atau sampeyan sudah berhasil mencintai bekas luka & cacat itu ? Apakah sampeyan jadi sakit hati ataukah justru menjadi bersyukur.. itu terserah sama sampeyan bagaimana sampeyan memandangnya, karena semua itu sampeyan sendiri yang membuatnya. Wallahualam.