Seperti biasa sekitar jam 6 pagi, warung Mas Kasimin selalu rame dengan tukang sayur, tukang tahu, tukang ikan, tukang koran termasuk tukang bangunan yang lagi nunggu jam gawenya. Dan sperti biasa juga orang2 itu sarapan gorengan, kue, lontong sekalian ngopi² pagi sambil ngobrol² ngalor ngidul apapun bahasannya sekedar saling mengakrabkan diri dan menghangatkan suasana yang dingin oleh hawa pagi.
"Pak Kas, tadi pagi waktu saya kulakan sayur di pasar induk, saya denger ada yg ngobrol² di di warung jamu mBak Lastri yang cakep itu" kata Mas Kasno.
"Crita apa No, kamu nguping ya ?" jawab Mas Kasimin.
"Wah..ketauan si Kasno suka nggodain mBak Lastri tukang jamu itu. Pantesan habis dari mushola pasar trus buru2 pergi." sambar Pak Kodir tukang ikan disambut tawa orang² yang ada di warung itu.
"Ndak koq..saya ndak nguping, lha wong ngomongnya keras² pasti denger. Karena saya denger, itu tandanya saya ndak lagi nggodain mBak Lastri. Nek udah merhatiin mBak Lastri pasti dijamin ndak akan ndenger apa², ndak akan liat apa² selain suara merdunya mBak Lastri & wajah ayunya itu hehehehe.." Mas Kasno membela diri.
"Ya udah, ada crita apa ?" Mas Kasimin menenangkan suasana melihat wajah Kasno sudah memerah.
"Begini, critanya dulu itu jaman Nabi Musa ada orang yang rajin ibadah. Dia itu pengen bisa punya ilmu kayak Nabi Musa yang konon kabarnya bisa mengerti bahasa binatang"
"Nabi Musa atau Nabi Sulaiman No ? Jangan² sampeyan salah denger gara² ada mBak Lastri disitu" potong Juki tukang bangunan yang kembali mengundang tawa orang² disitu.
"Wis, pokoknya kalian dengar aja dulu. Yang aku denger gitu koq. Klo urusannya mBak Lastri itu bisa diurus belakangan. Penyelesaiannya kudu secara jantan. Ya ndak Kang Jejen ? Sampeyan dari tadi diem aja, jangan² situ cemburu sama saya ya ?" jawab Kasno sambil melirik ke Jejen si loper boy.
Kasno melanjutkan ceritanya.
"Udah bertahun² orang itu berdoa, ndak kesampaian². Saking penasarannya dia pergi menemui Nabi Musa buat minta tolong didoakan kepasa Tuhan biar bisa tahu bahasa binatang. Critanya Nabi Musa mengabulkan permintaan orang itu. Begitu pulang ke rumahnya, dia tiba² bisa mendengar obrolan² binatang yang ada di pekarangannya. Wah...ternyata doannya Nabi Musa manjur. Ntar dulu...saya jadi haus. Pak Kas, nambah dong kopinya. Jangan kemanisan...cukup mBak Lastri aja yg manis." Orang² kembali tertawa.
"Beberapa hari kemudian, orang itu mendengar obrolan kambing dan sapi kalau dua ekor ayam betina yang habis bertelur akan mati. Kagetlah orang itu, dia mikir masak sih hewan bisa tau mana yang mau mati. Eee...ndak taunya esok harinya bner klo satu ayam betina mati. Biar ndak rugi, orang itu pergi ke pasar buru² menjual ayam betina satunya."
"Minggu berikutnya, orang itu denger dari ayam jantan klo si kambing kesayangan mau mati dua hari lagi, lalu orang itu kembali buru² menjual si kambing biar ndak rugi. Minggu berikutnya giliran si sapi yang belang yang dikabarkan mau mati dan seperti sebelumnya dijuallah si sapi biar ndak rugi juga."
"Sebulan kemudian, pas lagi melintas di pekarangan..dia sempet mendengar obrolan kadal dan kodok di dekat pagar pekarangannya yang mengatakan klo orang itu bakal mati dalam waktu dekat ini. Waahh...orang itu langsung panik ndak karuan. Langsung saja dia pergi buru² ke tempat Nabi Musa."
"Begitu sampe di rumah Nabi Musa, dia langsung menceritakan hal² yang sudah terjadi dan menanyakan apa yang harus dia lakukan karena ada kabar dia akan mati dalam waktu dekat. Kalian tau ndak jawabannya Nabi Musa ?"
"Paling disuruh rajin ibadah" jawab Jejen tiba² bersuara.
"Disuruh nyumbangin kekayaannya biar jadi pahala" jawab Pak Kodir
"Disuruh kawin dulu kali, biar ndak penasaran kayak si Jejen" jawab Mas Darto tukang tahu yang disambut gelak tawa orang².
"Ya udah, apa jawabannya Nabi Musa ?" Mas Kasimin menyela.
"Jadi, Nabi Musa bilang...Lho, kemarin² kan sampeyan udah tau tho kudu ngapain waktu ternak sampeyan mau pada mati ? Koq harus nanya saya ? Kenapa sampeyan ndak buru² ke pasar jual diri sampeyan" jawab Kasno.
Suasana menjadi riuh saat Pak Slamet seorang pensiunan pegawai departemen agama lewat di warung itu.
"Wah, darimana Pak Slamet. Dah lama nih ndak ngumpul² sama kita²" tanya Mas Kasno.
"Ini dari masjid, ngobrol² sama bapak² komplek. Dulu kan saya blum haji, Alhamdulillah sekarang dah haji ya kudu lebih baik, nongkrongnya ya kudu di tempat yang lebih deket sama Gusti Allah. Spertinya koq saya liat dari jauh rame bener. Ada apa ini ? Ati² lho, ndak boleh ngomongin orang apalagi ngomongin yang saru2. Itu dilarang sama agama." jawab Pak Slamet dengan penuh wibawa.
"Itu Mas Kasno tadi crita² tentang Nabi Musa, karena critanya lucu jadi kita ketawa²" kata Pak Kasimin.
"Wah, kalian ini ndak boleh ngetawain Nabi, itu dosa besar. Nabi nggak boleh jadi guyonan. Mas Kasno juga dapet crita² darimana. Itu cerita sahih ato ndak, ada di Quran ato ndak. Klo ndak ada, ndak boleh mengada², namanya bid'ah...itu dosa besar. Itulah mangkanya saya ndak lagi nongkong² sama kalian, obrolan kalian ini banyak ndak sesuai sama yang ada di Quran maupun Hadist. Sebagai muslim, kalian ini harusnya ngobrolin yang bermanfaat seperti gimana ibadah yang bener, solat yang bener, puasa yang bener, usaha yang bener biar bisa maju usaha kalian dan bisa naik haji kelak." Pak Slamet tampak serius dan suasana menjadi sunyi.
Pak Slamet lalu pergi meninggalkan mereka yang terdiam dan bingung. ----
Bagi orang bodoh, sebuah cerita tak lebih dari cerita. Bagi mereka yang merasa diri mereka pandai, mereka sibuk dengan merunut kesahihan sumber, aturan² dan penampilan. Bagi mereka yang bijak, apapun kisah yang ada, mereka mampu mengambil pelajaran dari tiap cerita.
Sebagaimana begitu banyak pohon di muka bumi ini, namun tidak semua bisa menghasilkan buah. Dari sekian banyak buah yang ada, tidak semua bisa dimakan dan sebagaimana banyaknya pengetahuan di muka bumi ini, tidak semuanya bisa bernilai bagi manusia. Tidak semua yang diinginkan sesuai dengan yang dibutuhkan, tidak semua yang disenangi itu baik dan yang baik belum tentu disenangi. Klo sampeyan udah tahu, lalu mengapa sampeyan terus meminta kepada Gusti berbagai hal yang sampeyan inginkan, yang sampeyan senangi sementara sebenarnya sampeyan sendiri ndak tau yang sampeyan minta itu benar² sampeyan butuhkan atau tidak, baik untuk sampeyan ato tidak ? Duh, Gusti, berikan kepada saya ini apa yang layak bagi saya miturut Panjenengan, bukan yang layak miturut saya sendiri. Wallahualam.