Thursday, September 09, 2010

Aku telah lupa

Di ujung barat sebuah kebun, pohon mangga tumbuh membesar. Dahan²nya kokoh menahan kencangnya angin dan lebatnya hujan, dan daun²nya rimbun menaungi tanaman² di bawahnya dari sengatan sang mentari yang terik. Kehidupan begitu damai dan tenang di bawah naungannya.

Sebuah telur menetas menjadi ulat di salah satu daunnya. Ulat tersebut dengan rakusnya melahap helai demi helai daun sang pohon. Sang pohon semakin lama tampak semakin menderita meskipun tak pernah terdengar keluhannya oleh makhluk di sekitar dia. Namun tidak dengan makhluk² lain yang berada di bawahnya yang mulai terusik dengan ketenangan dan kenyamanan hidup mereka karena ulah ulat yang rakus.

Matahari kemarau terasa semakin menyengat, menguapkan air dan mengeringkan tanaman² di bawah sang pohon. Hewan² dan tanaman yang bersarang dan hidup di sekitar pohon semakin gusar oleh ulah ulat rakus tersebut.

"Wahai ulat rakus, hingga kapankah engkau akan merusak kehidupan ini" ucap jangkrik.

"Apakah tiada puas engkau menyakiti sang pohon yang begitu baik kepada kita semua ?" tambah kumbang.

"Sungguh engkau sebuah musibah bagi kami, makhluk yang tak tahu diri. Pergilah engkau dari kehidupan kami, kami tak menyukaimu !" semak² mengungkapkan kemarahannya.

"Lihatlah dirimu makhluk rendah, derajatmu lebih rendah dari iblis yang terusir dari Taman. Bahkan iblis pun tak setamak dirimu” ucap laba².

Ulat tak mempedulikan semua kata² dan sumpah serapah makhluk² itu hingga suatu hari hujan pertama di musim hujan datang mengguyur bumi, lebatnya tetes air menyakiti tiap² makhluk yang selama ini mencari perlindungan dari sang pohon. Ulat menyaksikan semua kepedihan mereka dan mendengar rintihan mereka. Dia sendiri, kedinginan tanpa siapapun yang menemaninya. Semua telah membencinya karena kerusakan yang dia lakukan. Dia pergi menuju ujung kepala sang pohon, dia tak tahan melihat hasil perbuatannya. Dalam dinginnya musim hujan, dia mengurung diri dalam selimutnya dan menyesali yang telah dia lakukan. Namun semua penyesalannya tak berguna, dia telah membuat kerusakan besar dan menyakiti saudara²nya.

Berhari² dia mengurung diri dan terus menyesali perbuatannya, mengapa dia harus melakukan semua itu. Hingga suatu hari, dia memberanikan diri untuk keluar dari selimutnya. Dalam hatinya dia telah mempersiapkan diri dengan semua hukuman yang akan ditimpakan kepadanya karena perbuatannya di waktu yang lalu. Dia sadar bahwa dia tak bisa memperbaiki kerusakan itu. Kerusakan itu akan terus membekas meninggalkan bekas luka yang akan diingat oleh mereka yang disakitinya. Dia hanya bisa berharap untuk bisa mendapatkan kesempatan lagi untuk melakukan kebaikan bagi mereka yang pernah disakitinya.

Ketika dia keluar dari selimutnya, sang mentari pagi menyambut dengan kehangatannya dan dia melihat sang pohon telah menumbuhkan kembali tunas² baru dan bunga² mulai tumbuh di ujung² rantingnya. Dia memberanikan diri untuk meminta maaf kepada sang pohon dan mempersiapkan diri untuk menerima hukuman yang pantas baginya, meskipun dalam hatinya yakin bahwa tak ada lagi hukuman di dunia ini yang sebanding dengan kesalahan yang pernah dilakukannya.

“Wahai Sang Pohon, sungguh aku menyesali perbuatanku dahulu yang telah menyakitimu meski kau tak pernah berhenti melindungiku, memberiku kehidupan dan kebaikan. Maafkan aku karena kebodohanku dan keras kepalaku. Aku siap untuk menerima segala hukuman yang akan engkau berikan kepadaku.” Ucap ulat lirih.

“Wahai ulat, sungguh aku mencintaimu dan mencintai semua yang ada di sekitarku. Kesalahan apa yang pernah Kau lakukan kepadaku, tolong segarkan ingatanku. Aku tak ingat lagi apa yang pernah engkau lakukan kepadaku, bagaimana mungkin engkau mengatakan cinta jika engkau terus mengingat² kesalahan yang Kau cintai ?” jawab pohon.

“Aku telah banyak melakukan kesalahan yang begitu besar hingga aku sendiri tak sanggup untuk menceritakan kepadamu karena aku pun begitu malu dengan diriku sendiri yang telah melakukan begitu banyak kerusakan karena kebodohan dan keras kepalaku.”

“Janganlah engkau bersedih kekasihku. Lihatlah dirimu dan lanjutkan kehidupanmu. Aku tetap mencintaimu apapun yang pernah engkau lakukan kepadaku.” Kata Sang Pohon dengan penuh kelembutan.

Sang ulat melihat dirinya sendiri, dia telah berubah...berubah menjadi kupu² yang indah dan kemudian dia terbang berputar² menghiasi kebun bersama bunga² yang mekar.