Monday, September 20, 2010

Ahli berlian

Di sebuah Kerajaan yag sangat luas wilayahnya, Sang Raja membagi² daerahnya menjadi beberapa daerah² kecil yang dipercayakan kepada pembantu²nya untuk memimpin daerah kecil² itu. Masing² diberi kuasa kecil atas daerah itu dan semua diberikan Kitab oleh Sang Raja yang berisi petunjuk, aturan, perintah dan larangan yang harus dijaga, dipatuhi dan dilaksanakan oleh seluruh penduduk kerajaan tanpa terkecuali.

Setelah sekian lama bertugas, para pembantu² Raja satu per satu dipanggil Sang Raja untuk menerima penghargaan dari Sang Raja atas pengabdiannya kepada Sang Raja dan kini tinggal di Istana Sang Raja.

Kini, daerah² tersebut dipimpin oleh penerus² para Pembantu Sang Raja yang dianggap telah mengusai Kitab Sang Raja seperti yang diajarkan oleh tiap² Pembantu Raja dahulu secara turun temurun.

Tersebutlah satu daerah bernama Maal yang dipimpin oleh seorang pembantu Raja bernama Mahsur yang memiliki seorang putri yag sangat cantik dan rupawan. Gubernur Mahsur terkenal sangat menjunjung tinggi Kitab Sang Raja. Di daerahnya, dibuatlah monumen yang megah terbuat dari emas yang di dalamnya diletakkan Kitab Sang Raja. Tiap dinding monumen yang terbuat dari pelat emas diukir kata² indah dari Kitab Sang Raja dan Monumen itu dijaga ketat oleh prajurit² pilihan sehingga tak seorang pun dapat memasuki monumen itu tanpa sepengetahuan dan ijin dari Gubernur Mahsur. Seluruh penduduknya yang berumur diatas sepuluh tahun diharuskan untuk menghafal seluruh isi Kitab Sang Raja. Mereka yang tidak hafal dihukum dengan hukuman yang berat karena dianggap tidak menghormati Raja.

Suatu hari, Gubernur Mahsur menerima dua putera gubernur dua daerah yang berbeda. Mereka memiliki niat yang sama untuk meminang puteri Gubernur Mahsur. Mereka adalah Pangeran Wool dari daerah Nuur dan Pangeran Nabal dari daerah Zaahin. Gubernur Mahsur belum bisa memutuskan mana yang terbaik untuk putrinya, oleh karena itu Gubernur Mahsur meminta mereka kembali satu purnama kemudian untuk mendapatkan jawaban atas pinangan mereka.

Gubernur Mahsur menginginkan menantu yang terbaik untuk putrinya dan tentunya yang akan menjamin kehidupan putrinya dengan baik dan sesuai dengan cara hidup di daerah mereka. Maka diutuslah mata² untuk melihat bagaimana kehidupan kedua pangeran itu dan kehidupan daerah mereka masing².

Setelah beberapa minggu diutus oleh Gubernur Mahsur, para mata² telah kembali dan melaporkan hasil pengamatan mereka.

“Tuanku, Nuur adalah daerah yang tidak seluas daerah kita. Tidak ada istana megah tempat tinggal gubernur dan keluarganya. Gubernur dan keluarganya tinggal di rumah sederhana tanpa pengawalan ketat sehingga penduduk Nuur bisa dengan leluasa mengunjungi dan bertemu gubernur dan keluarganya. Sepertinya daerah itu bukanlah daerah yang kaya karena hamba tak menemukan kereta² kencana yang indah dan istana² megah seperti di daerah kita. Penduduknya hidup sederhana meski sangat erat hubungannya satu sama lain dan begitu ramah dengan setiap pendatang yang datang di daerah mereka. Mereka tampak selalu riang gembira meski tak terlihat kemewahan sebagaimana di daerah kita. Satu hal yang menarik bagi hamba adalah bahwa di daerah Nuur, tidak ada seorang pengemis dan peminta² yang hamba temui, bahkan orang tua dan cacat tak ada yang berkeliaran di jalanan mencari belas kasihan. Mereka semua dirawat dan diperlakukan dengan baik oleh pegawai² gubernur.

Di daerah tersebut, Kitab Sang Raja sepertinya tidak dihormati dengan baik oleh penduduknya. Kitab Sang Raja hanya seperti Kitab usang di rumah penduduknya karena tidak diistimewakan seperti di daerah kita yang wajib memajangnya di tiap rumah penduduk dengan hiasan yang indah dipandang.” mata² dari daerah Nuur melaporkan pengamatannya.

“Bagaimana dengan Pangeran Wool ? Seperti apa dirinya ?” tanya Gubernur Mahsur.

“Pangeran Wool tidaklah tampak seperti seorang pangeran pada umumnya. Apa yang dikenakan tak berbeda dengan yang dikenakan penduduk Nuur. Setiap hari, dia selalu berkeliling daerah dengan berjalan kaki tanpa diiringi pengawalan ataupun fasilitas² lainnya sehingga penduduk Nuur begitu mengenal Pangeran Wool dengan baik karena mereka selalu bisa bercengkrama, bercanda ataupun menceritakan kesulitan² mereka secara langsung kepada Pangeran Wool tanpa ragu. Dia tak segan² ikut membantu orang yang kesusahan yang dia temui. Bahkan suatu hari pernah hamba lihat ketika Pangeran Wool sedang berjalan di pasar, Pangeran Wool ikut mengangkat peti² buah²an di pasar karena kuli angkat yang seharusnya bekerja terpeleset dan kakinya patah saat bekerja. Menurut hamba, Dia benar² tidak tampak seperti bangsawan sebagaimana seharusnya.” lanjut mata².

“Baiklah, lalu bagaimana dengan daerah Zaahin dan Pangeran Nabal ?” tanya Gubernur Mahsur kepada mata² yang diutus ke Zaahin.

“Zaahin tidaklah jauh berbeda dengan daerah kita yang kaya raya dan penuh dengan istana megah dan kereta kencana. Di sana pun tidak ditemui seorang pengemis, orang tua dan orang cacat yang meminta² karena itu adalah sebuah perbuatan yang dilarang. Mereka dihukum dengan berat karena dianggap melakukan tindakan yang mencemarkan keindahan dan kehormatan daerah Zaahin. Penjara Zaahin memang besar dan dipenuhi orang² seperti tadi yang hamba sebutkan. Istana gubernur dan tempat tinggalnya begitu megah dan berlapis emas, sehingga begitu tampak berbeda dengan tempat tinggal penduduk pada umumnya. Namun itulah selayaknya tempat tinggal gubernur.

Setiap harinya, seluruh penduduk diwajibkan membaca Kitab Sang Raja sebelum memulai seluruh aktivitasnya. Mereka juga memiliki monumen Kitab Sang Raja seperti yang ada di daerah kita. Sepertinya mereka adalah orang² yang sangat mencintai Raja. Memang hamba tidak menemukan kehidupan seperti yang diceritakan oleh mata² Nuur karena seluruhnya dilakukan dengan sangat profesional. Semua dihargai dengan mata uang agar adil, sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk bersantai² seperti di Nuur. Dan begitu pula Pangeran Nabal. Dia sungguh pangeran sejati yang hafal di luar kepala Kitab dari Sang Raja. Setiap harinya dia habiskan waktunya untuk membaca Kitab Sang Raja berulang kali di istananya. Jikalau dia keluar istana, selalu diiringi oleh kemegahan dan seluruh penduduk diwajibkan menyambutnya di sisi jalan yang akan dilewatinya. Hamba sendiri begitu kagum dengan kemegahannya.” begitu mata² Zaahin menceritakan.

“Baiklah, dua hari lagi kedua pangeran itu akan datang. Aku akan memberikan ujian bagi mereka dan siapa yang dapat lolos dari ujian itu akan menjadi menantuku” ucap Gubernur Mahsur.

Hari keputusan telah tiba. Pangeran Nabal datang dengan segala kebesarannya dan diiringi pasukannya dengan membawa begitu banyak emas, berlian dan kain sutra. Sementara itu Pangeran Wool datang dengan ditemani seorang pengawalnya tanpa kebesaran dan kemewahan layaknya seorang pangeran.

Kedua pangeran itu menemui Gubernur Mahsur yang telah mempersiapkan kedatangan kedua pangeran itu. Disaksikan oleh petinggi² Maal, Gubernur Mahsur mulai menguji kedua pangeran itu.

“Kami adalah orang² yang mencintai Sang Raja, kami hanya bisa menerima orang² yang mencintai Sang Raja pula. Tidak ada tempat bagi daerah kami bagi mereka yang tidak mencintai Sang Raja karena semua yang kita nikmati adalah karena kebaikan Sang Raja. Oleh karena itu, aku bertanya kepada kalian, apakah kalian mencintai Sang Raja ?” tanya Gubernur Mahsur kepada kedua pangeran.

“Hamba sangat mencintai Sang Raja” jawab Pangeran Nabal dengan cepat tanpa ragu².

Pangeran Wool terdiam begitu lama. Dia tak menjawab pertanyaan Gubernur Mahsur hingga akhirnya Gubernur Mahsur melanjutkan pada ujian selanjutnya.

“Kami sangat menjunjung tinggi Kitab Sang Raja, oleh karena itu untuk mendapatkan putriku, aku akan menguji hafalan kalian tentang Kitab Sang Raja. Buatlah aku terkesan dengan hafalan kalian.” Pinta Gubernur Mahsur.

Pangeran Nabal dengan begitu berapi² dan bersemangat melantunkan kalimat demi kalimat Kitab Sang Raja dengan fasih tanpa kesalahan satu pun. Sementara ketika giliran Pangeran Wool, dia melantunkan dengan terbata² dan sesekali dia berhenti cukup lama sambil menundukkan kepalanya ketika melantunkan beberapa kalimat² Kitab Sang Raja.

“Baiklah, ini yang terakhir, aku beri kalian waktu hingga sore hari nanti untuk meninggalkan istana ini, lalu datanglah kembali dengan menunjukkan makhluk yang menurut kalian, kalian lebih baik darinya.” Lalu Gubernur meninggalkan istana.

Setelah sore hari tiba, Gubernur Mahsur memanggil kedua pangeran itu. Lalu satu per satu diminta memberikan jawaban atas permintaan terakhir gubernur.

“Pangeran Wool, apa yang akan engkau tunjukkan ?” tanya Gubernur Mahsur kepada Pangeran Wool.

“Maaf Tuan Gubernur, saya tidak berhasil menemukannya. Mohon maaf jika saya telah mengecewakan Anda.” jawab Pangeran Wool singkat.

Pangeran Nabal segera memberikan jawabannya, “Baginda, hamba tak perlu bersusah payah menunjukkan kepada Baginda karena Baginda telah menyaksikannya sendiri bahwa Saya lebih baik dari Pangeran Wool. Bagaimana mungkin seorang pangeran tidak memiliki harga diri dan kehormatan. Bagaimana mungkin seorang pangeran yang seharusnya mencintai Sang Raja tidak bisa menjawab apakah dia mencintai Sang Raja atau tidak, dan Bagaimna mungkin seorang yang menghargai Kitab Sang Raja tidak lancar dalam menghafalkannya.”

“Baiklah, sepertinya semua yang hadir disini bisa menjadi saksi siapa yang lebih pantas menjadi menantuku. Pangeran Nabal yang cerdas telah menunjukkan dirinya memang pantas sebagai seorang pangeran sebagaimana yang sudah digariskan oleh Sang Raja yang akan melanjutkan memimpin daerah Zaahin. Dan Kami pun sungguh bahagia jika Pangeran Nabal bisa bersanding dengan putriku. Aku telah menentukan keputusanku.” demikianlah keputusan Sang Raja.

Keesokan harinya dinikahkannya Pangeran Nabal dengan putri Gubernur Mahsur dengan penuh kemegahan, sementara Pangeran Wool kembali ke Nuur bersama pembatu setianya. Meskipun telah ditolak dan dianggap tidak lolos dalam ujian Gubernur Mahsur, tak nampak sedikitpun kekecewaan atau kesedihan di wajah Pangeran Wool dan itu membuat pembantunya keheranan sepanjang perjalanan, namun ia segan untuk menanyakannya.

Di tengah perjalanan menuju Nuur, senja telah tiba. Pangeran Wool beristirahat di sebuah pohon beringin besar dan pembantunya meminta ijin sebentar untuk mencari tahu siapa tahu ada penginapan atau tempat untuk bermalam.

Pembantu Pangeran Wool menemukan sebuah kebun buah²an yang sangat terawat dan di tengah kebun terdapat sebuh gubuk sederhana. Pembantu Pangeran Wool mencari penghuni gubuk tersebut dan meminta ijin untuk bisa bermalam dan bisa mendapatkan makanan ala kadarnya sekedar untuk pengisi perut.

Pemilik gubuk itu seorang lelaki yang sudah cukup berumur namun masih tampak segar dan kuat. Lalu dia menanyakan darimana dan akan kemana mereka. Pembantu Pangeran Wool menceritakan kepada lelaki tersebut apa yang dialami Pangeran Wool. Setelah selesai mendengarkan kisah seluruhnya, lelaki itu tersenyum.

“Sungguh beruntung dirimu bisa mengabdi kepadanya. Dialah Pangeran sejati yang pantas untuk dijunjung” kata lelaki itu.

“Namun, mengapa Gubernur Mahsur berkata sebaliknya ? Tentulah sebagai seorang Gubernur memiliki ilmu yang tinggi karena mendapatkan mandat dari Sang Raja untuk mengatur daerah Maal” tanya Pembantu Pangeran Wool.

“Jika engkau sebagai ahli berlian datang ke negeri tukang loyang, apakah berlian yang kau bawa akan dianggap berharga bagi mereka ? Gubernur telah memilih dengan tepat, tentunya dia memilih menantu yang sesuai dan berharga menurutnya. Gubernur Mahsur mencintai Sang Raja dengan caranya sebagai seorang tukang loyang dan demikian pula dengan Pangeranmu yang telah dipintu gerbang istana ilmu berlian. Gubernur Mahsur telah merasa puas dan bangga setelah menembus sabut kelapa dan menemukan batok kelapa yang keras seakan tak bisa ditembus lagi. Batok kelapa itulah yang dianggapnya sebagai inti dari sebuah kelapa, sementara Pangeranmu sudah berhasil menembus batok tersebut di usianya yang masih muda. Tak perlu lama baginya untuk bisa mendapatkan minyak yang menjadi intisari dari sebuah kelapa.” jawab lelaki itu.

“Namun, saya masih tidak mengerti mengapa ujian yang begitu mudah tidak dapat diselesaikan oleh Pangeranku dan hingga kini tak tampak kekecewaan ataupun kesedihan dengan kegagalan itu. Sungguh aku mengetahuinya bahwa dia adalah orang yang begitu mencintai Sang Raja, hafal dengan Kitab Sang Raja dan berilmu tinggi.”

“Baginya seperti halnya di daerahmu, Kitab Sang Raja bukanlah sebuah bacaan untuk dihafalkan, namun petunjuk, aturan, perintah dan larangan dari Sang Raja. Pangeranmu adalah Kitab itu sendiri. Dia tak perlu menyebutkan atau mengutip tiap kalimat dari Kitab Sang Raja dalam ucapannya, namun setiap tindakannya adalah pengejawantahan dari tiap kalimat Kitab Sang Raja. Cintanya kepada Sang Raja tak diragukan, karena dia tidak memerlukan pengakuan dari orang lain atas kecintaannya kepada Sang Raja. Cintanya murni dan tak terkotori oleh kecintaan pada hal lain bahkan kecintaan pada harga diri dan kehormatannya sendiri. Dia yang telah mengenal dirinya, tak memerlukan pengakuan dari orang lain tentang siapa dirinya.

Dia sudah menguasai ilmu sejati, bagaimana mungkin seorang yang memiliki ilmu sejati memiliki kesombongan dalam dirinya. Semakin dalam yang diketahui, engkau akan semakin sadar bahwa semakin banyak pula kekurangan yang engkau miliki. Jika engkau merasa ada satu makhluk yang lebih rendah darimu, berarti engkau telah menganggap dirimu tinggi dan merendahkan makhluk lain dan itu adalah tanda kesombongan yang dengan jelas itu dinyatakan dalam Kitab Sang Raja untuk dijauhi oleh seluruh makhluk di Kerajaan ini. Bagaimana engkau akan menjadi seorang Abdi Sang Raja jika engkau telah merendahkan sesamamu sementara Sang Raja begitu menjunjung tinggi dan menyayangi seluruh isi Kerajaan ini tanpa kecuali.

Setiap titik kelebihan yang engkau miliki, maka akan muncul lima ratus titik yang akan menarikmu lebih rendah dari mereka yang tak memiliki kelebihan itu. Seorang pemimpin adalah abdi bagi yang dipimpinnya, Sang Raja sendiri yang menyatakan dengan jelas dalam Kitab.

Jangan sia²kan waktumu bersama Pangeranmu, belajarlah dari Pangeranmu sebelum waktumu habis. Dia tak mengajarkan dengan menuliskan atau meneriakkan kutipan kalimat² Kitab Sang Raja, namun dengan mencontohkan sendiri dalam perbuatannya apa yang tercantum dalam Kitab Sang Raja. Waktunya tak dihabiskan untuk menghafal dan mengingat kalimat² Kitab Sang Raja, namun untuk melaksanakan apa yan disebutkan dalam Kitab Sang Raja. Ambillah ilmu darinya sebanyak²nya dan tak akan kering dirinya dari ilmu pengetahuan. Cerukan tanah dan sebuah sumur tak tampak berbeda di musim hujan, namun di musim kering semua akan tampak bedanya. Air dalam cerukan seluas apapun akan kering menguap, sementara air dalam sumur sekecil apapun tak akan pernah kering airnya meski kau ambil airnya terus menerus.” jawab lelaki tua itu.

“Kalian tinggalah sekehendak yang kalian inginkan di gubuk ini dan semua kebutuhan kalian akan tersedia di kamar itu. Jika kalian akan pergi, pergilah karena mungkin kalian tak akan menjumpaiku lagi esok hari karena aku akan mengunjungi saudaraku yang lain” demikian ucap lelaki tua itu yang lalu pergi keluar.

Pembantu Pangeran Wool kembali kepada Pangeran Wool untuk menyampaikan bahwa ada sebuah gubuk untuk bermalam dan ada makanan ala kadarnya untuk mengisi perut bekal tenaga melanjutkan perjalanan esok hari. Dia memberanikan diri bertanya kepada Pangeran Wool mengenai kejadian di istana Gubernur Mahsur.

“Saudaraku, sungguh tidaklah pantas jika aku mengatakan aku mencintai Sang Raja, karena masih banyak tugas dari Sang Raja yang belum aku selesaikan dan aku belum bisa memberikan yang terbaik untuk Sang Raja. Namun jika aku mengatakan aku tidak mencintai Sang Raja, maka aku tak pantas untuk tinggal di Kerajaan ini dan tak ada tempat yang pantas untukku karena hal itu. Dan setiap aku menyebutkan kalimat Kitab Sang Raja yang belum aku penuhi atau lalai melaksanakannya, selalu muncul perasaan bersalahku yang membuat lidahku berat untuk melanjutkannya.” jawab Pangeran Wool.

“Lalu, bukankah engkau bisa saja menujukkan diriku kepada Gubernur Mahsur karena jelas engkau lebih baik dariku Pangeranku. Engkau memiliki kedudukan, ilmu dan kehormatan dibandingkan diriku. Mengapa tak engkau lakukan ?”

Pangeran Wool tersenyum, “Bagaimana mungkin aku menganggap saudaraku lebih rendah dariku. Bahkan seekor anjing buduk pun lebih mulia dari diriku. Anjing menggonggong dan berbuat apapun yang menjijikkan karena itulah yang digariskan dan diperintahkan kepadanya, sementara aku adalah manusia yang diberikan akal dan hati nurani yang seharusnya lebih tinggi dari malaikat sekalipun yang diperintahkan untuk taat dan menjadi pemimpin di daerahku. Namun lihatlah aku, masih banyak tugas yang belum terselesaikan, masih banyak kekurangan dan kelalaian yang aku lakukan. Itu semua jauh dari apa yang digariskan dan diperintahkan kepadaku sebagai manusia.”

“Apakah Engkau kecewa dan bersedih dengan hasil semua ini Pangeran ?” tanya pembantunya.

“Saudaraku, apakah engkau akan bersedih jika menyadari bisa menyelamatkan segenggam berlianmu yang meski masih tampak kusam yang akan hilang jika engkau berhasil menggapai sebatang loyang yang tampak lebih mengkilap ?” Pangeran pun tersenyum dan melangkahkan kakinya ke lembah dimana gubuk itu telah ditunjukkan oleh pembantunya. Wallahualam.