Manusia memang memiliki kebebasan memilih, dan justru pada pilihannyalah kualitas seorang manusia ditentukan. Pada kualitasnya itulah keber-Ada-an manusia. Ada dua pilihan untuk meng-Ada bagi manusia, yaitu To Be (menjadi) atau To Becoming (menjadi seperti, menjadi dalam suatu keselarasan dengan).
To be adalah gambaran bagi mereka yang menemukan otentisitas dalam pilihan-pilihan hidupnya. Sebaliknya, to becoming adalah pilihan bagi mereka yang memilih mengikuti arus kepantasan, apa yang menjadi trend, tanpa memiliki pemaknaan atas apa yang dilakukannya.
Keduanya adalah pilihan yang sah-sah saja. Bebas juga mau menjadi Socrates, Tuhan, ataupun Anak Kecil Pedagang Cobek yang tak pernah mengeluh dalam menjalankan rutinitasnya itu. Itulah pilihan hidup manusia yang bebas-bebas saja dilakukan, justru dalam pilihan itulah tergambar kualitas manusia seperti apa dia. "What we truly are" seperti kata Dumbledore.
Kualitas itu dengan demikian tak lepas dari konteks bagaimana manusia menghadapi pilihan-pilihan hidupnya, tak lepas pula dari bagaimana memahami secara mendalam hal-hal dalam hidupnya, bahkan hal yang sepintas tampak remeh sekalipun.
Manusia hendaknya menyadari bahwa kehidupan merupakan perjalanan spiritual yang dibimbing oleh kebetulan-kebetulan misterius. Bahwa ada sesuatu yang mesti disadari dan dimaknakan di balik kejadian-kejadian kebetulan dalam hidup manusia.
Suatu ketika, kita mungkin punya firasat atau intuisi mengenai sesuatu yang ingin kita lakukan, arah yang ingin kita tempuh, dan meragukan bahwa hal itu mungkin terjadi. Namun ketika kita telah agak lupa tentang hal itu, kita tiba-tiba bertemu seseorang atau membaca sesuatu atau pergi ke suatu tempat yang ternyata menuntun kita ke arah kesempatan yang kita impikan.
Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa ketika peristiwa-peristiwa dalam hidup dapat kita maknakan maka peristiwa-peristiwa itu akan menyemangati kita, sebaliknya bila peristiwa-peristiwa itu kita anggap sebagai sesuatu kebetulan belaka, maka peristiwa-peristiwa itu tidak dapat menyemangati hidup kita. Wawasan pertama merupakan kesadaran tentang peristiwa-peristiwa kebetulan yang misterius yang mengubah hidup seseorang, perasaan bahwa suatu proses yang lain tengah berlangsung.
Wawasan pertama mengajak manusia untuk tak melenyap dalam arus, dalam banalitas, namun lebih merenungkan hidupnya. Membuat pemaknaan-pemaknaan yang tak sekedar pra-reflektif melainkan masuk dalam tataran pemaknaan reflektif. Pemaknaan reflektif ini bisa dimulai dari peristiwa-peristiwa keseharian. Bahkan hal-hal yang sepertinya cuma kebetulan, maka tak salah jika kedalaman justru dapat ditemukan dari kedangkalan.
Pada titik ini, manusia diajak untuk menyadari bahwa tak ada hal yang kebetulan. Hal-hal remeh, pertemuan-pertemuan, peristiwa keseharian, adalah hal-hal yang sebenarnya membawa pesan bagi pertumbuhan masing-masing manusia. Konsekuensinya, apapun yang berada di hadapan manusia, terutama apa yang tengah menjadi minatnya, akan coba dipahami dalam kedalamannya. Orang tak sekedar bergenit-genit dengan suatu hal, tapi memang menekuni, mempelajari dan berusaha memahami hingga akarnya.
Barangsiapa mencari kedalaman, mulailah dengan yang dangkal-dangkal dan melihat kedangkalan dengan tatapan yang cermat dan dalam, maka kedalaman itu akan muncul dari hal-hal yang bersifat permukaan itu. Manusia adalah entitas yang bergerak dalam pemahaman tentang Ada. Maka dalam keseharianpun, manusia dapat memetik pemahaman tentang Ada. Mistik keseharian, begitu kira² sebutannya, yaitu bersikap mistis dalam keseharian; yang berarti menghayati keseharian secara mendalam sampai ke dasar-dasar Ada kita sendiri, dengan cara menanyakan Ada.
Apa yang dimaksud dengan menanyakan Ada? Maksudnya tak lain adalah tidak sekedar menjalani hidup, melainkan bergumul dengan diri sendiri dan bertanya mengapa dia ada. Di sinilah proses meng-Ada (Being) berlangsung, dalam suatu tataran yang reflektif terhadap apa saja yang ditemui di dunia ini.
Manusia, memang akan larut dalam keseharian, mengambil identitas demi identitas, bergerak dalam jaman; tapi bukan itu yang penting, di atas itu semua, manusia tak boleh melenyap dalam pergerakan itu. Dalam keterseretan arus itu, manusia tak boleh tenggelam, apalagi mati; Manusia diajak untuk menyembul ke permukaan melalui perenungan-perenungan. Ini karena manusia seringkali larut dalam keseharian, larut dalam kegenitan tawaran-tawaran hal baru. Bergenit-genit dalam hal baru itu sembari bersembunyi pada premis mayor bahwa itu adalah sesuatu yang sah-sah saja.
Manusia yang larut dalam keseharian sebagai dasman, yang berarti "orang". Dalam bahasa Indonesia, kata "orang" bersifat impersonal dan tidak menunjuk pada hidup pribadi seseorang. "Kata orang
begini", "orang bilang begitu", tak jelas siapa yang berkata dan bilang. Manusia keseharian tidak mengenal dirinya. Pada titik ini, manusia mengenal Ada hanya karena emblem sosialnya. Emblem sosial macam ini dangkal dan tak mencerminkan diri sejati penyandangnya. Celakanya, manusia sendiri kerap terhanyut dalam identitas keseharian ini dan lupa akan Ada-nya.
Makna hidup memang tak selalu ditemui pada para pemikir atau orang-orang perlente. Tak pula selalu ditemui pada ilmuwan-ilmuwan psikologi yang bergenit-genit dengan berbagai emblem psikologi. Orang-orang seperti Anak Kecil Pedagang Cobek yang menjalankan kesehariannya tanpa mengeluh, mungkin lebih menawarkan suatu pesan mengenai makna hidup.
|sebuah renungan dari Harry Potter and the Chamber of Secrets, Celestine Prophecy & Martin Heidegger|