Dalam Hayat Al-Shahabah 2: 544 dikisahkan 'Abdullah Al-Bajaliy yg seorang biasa, bukan orang yang kaya atau berkuasa, pernah datang terlambat ke majelis Nabi SAW sehingga tempat sudah penuh. Nabi tiba-tiba menghentikan pembicaraannya dan melepaskan gamisnya. Dengan tangannya sendiri Beliau melipat gamis tersebut dan mengantarkannya ke 'Abdullah sambil berkata "Jadikan ini tikar tempat dudukmu". 'Abdullah tidak mendudukinya dan dengan berlinang air mata dia mencium baju tersebut dan berkata "Ya Rasul 4JJI, semoga 4JJI memuliakanmu sebagaimana Anda telah memuliakanku". Sambil tersenyum nabi SAW berkata "Bila datang kepada kalian orang yang mulia dari suatu kaum, muliakanlah dia".
Pada kitab yang sama dikisahkan pula Anas bin Malik, seorang khadam (pembantu rumah tangga-red) di keluarga Nabi SAW. Dia menceritakan betapa Nabi SAW tidak segan² memperbaiki sandal anak yatim, menjahitkan pakaian kumal milik perempuan tua yang miskin, membagikan makanan sedikit yg dimilikinya kepada kaum yg miskin sementara Beliau sudah 3 hari tidak pernah makan kenyang. Dalam Nail Al-Awthar 4 : 90, Abu Hurairah menceritakan ada seorang perempuan hitam yg pekerjaannya menyapu masjid. Suatu hari, Nabi SAW tidak menemukan perempuan itu. Nabi SAW menanyakan ihwalnya. Para sahabat mengatakan bahwa dia sudah mati. Ketika Nabi menegur mereka mengapa ia tidak diberitahu, sahabat² mengatakan bahwa perempuan itu hanyalah orang kecil saja. Kata Nabi SAW, "Tunjukkan aku kuburannya." Di atas kuburan perempuan itu Nabi melakukan shalat untuknya.
Beliau tidak sekedar menyerukan pemimpin melayani rakyatnya, tapi benar² melakukannya bahkan hingga hal yg kita anggap remeh. Masih banyak kisah² dari sahabat mengenai perilaku Beliau yg dalam pikiran kita tidak akan dilakukan seorang pemimpin sebesar Beliau. Berhubung saking banyaknya, gw gak sanggup inget semuanya apalagi menuliskan kembali disini....So...baca, dan ambil pelajaran dari itu semua !!
Kembali ke laptop !!! ....eh...ke topik maksudnya. Dikisahkan pada suatu malam beberapa hari menjelang wafatnya Rasulullah, para sahabat mendengar Bilal memanggil mereka untuk berkumpul. Setelah mereka berkumpul di masjid, Nabi keluar dari hujrah-nya - ruang kecil tempat tinggal Nabi di sebelah masjid. Beliau dengan wajah pucat dan dahinya dibalut kain berjalan perlahan dipapah Fadhl dan Ali menuju mimbar. Para sahabat tak dapat menyembunyikan tangisnya melihat Nabi SAW.
Beliau mewasiatkan banyak hal mulai dari taqwa kepada 4JJI hingga menghargai kaum wanita. Berikut sebagian kutipan wasiat Rasulullah menjelang wafat beliau tentang pemimpin :
"...yang mencemari akidah itu adalah kerakusan pada dunia, mengumpulkan dunia bukan secara halal, dan bersenang-senang dengan harta yg haram. (termasuk yg akidahnya tercemar adalah) kaum yang berbicara dengan perkataan orang-orang baik, tetapi berperilaku seperti perilaku para tiran. Barangsiapa yg menghadap 4JJI dengan tidak membawa hal-hal tersebut sedikitpun dan mengucapkan la ilaha illallah, baginya surga. Barangsiapa mengambil dunia dan meninggalkan akhirat, baginya neraka. Siapa yang membantu permusuhan para penindas dan membantunya melakukan penindasan, maka malaikat pencabut nyawa akan datang membawa berita kepadanya - ia mendapat laknat 4JJI, kekal di neraka, dan tempat kembali yang paling jelek. Siapa yang melangkahkan kaki kepada penguasa yang zalim untuk memenuhi kebutuhannya, ia akan menyertai penguasa itu di neraka. Siapa yang menunjuki jalan kepada penguasa untuk melakukan penindasan, dia akan dihimpunkan bersama Haman (penasihat Fir'aun). Ia, Haman dan penguasa zalim itu, akan mendapat siksa yang paling berat di neraka..."
Beberapa hari setelah itu, Beliau mengumpulkan kembali sahabat di masjid. Sambil bersandar pada tongkatnya dan dikompres dahinya, beliau menyampaikan "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menetapkan bahwa tidak boleh orang datang kepada-NYA dengan membawa kezaliman. Demi Allah, siapakah di antara kalian yang pernah disakiti Muhammad, berdirilah dan balaslah sekarang (lakukan Qishash). Qishash di dunia lebih aku sukai daripada qishash di hari kiamat nanti di hadapan para malaikat dan para Nabi".
Seorang laki² berdiri dari tengah² hadirin. Dia Sawda bin Qais. Ia berkata "Semoga orangtuaku sebagai tebusannmu, ya Rasul Allah. Ketika Anda kembali dari Tha'if, saya menjemput Anda. Anda mengendarai unta Anda Al-Ghadhba dan pada tangan Anda ada tongkat kecil. Anda mengangkat tongkat itu ketika Anda bermaksud untuk menggerakkan unta Anda. Tongkat itu mengenai perutku. Saya tidak tahu apakah Anda melakukannya dengan sengaja atau tidak."
"Saya berlindung kepada Allah kalau saya lakukan dengan sengaja. Hai Bilal, pergilah ke rumah Fathimah dan ambil tongkat kecilku itu." Bilal keluar sambil berseru "Wahai manusia, siapa yang akan meng-qishash Rasulullah, lakukanlah sebelum kiamat nanti."
Bilal mengetuk pintu Fathimah, Wahai Fathimah, ayahandamu meminta tongkat kecil itu." "Apa yang akan kalian lakukan dengan tongkat ini?" Tanya Fathimah. Ayahandamu di mimbar dan dia mengucapkan selamat tinggal pada ahli agama dan ahli dunia," Bilal menjelaskan. Fathimah menangis, "Oh, derita di atas deritamu, Ayah, Bila engkau tiada, siapa lagi yang membela orang sengsara dan malang serta para perantau. Oh, kekasih Allah dan kekasih semua hati".
Bilal membawa tongkat itu dan menyerahkannya kepada Nabi SAW. Rasulullah berseru "Mana orangtua itu?" "Ini saya, ya Rasul Allah," kata Sawda bin Qais. "Bukalah perutmu, ya Rasul Allah !" Nabi membuka perutnya, Sawda memeluk Nabi dan memohon untuk mengecup perutnya. Sesudah Nabi mengijinkannya, ia berkata, "Aku berlindung kepada 4JJI dari api neraka dengan meletakkan mulutku pada tempat qishash di perut Rasul.
Nabi SAW bertanya "Hai Sawda bin Qais, Engkau lakukan qishash atau engkau maafkan." "Aku maafkan, ya Rasul Allah." "Ya Allah, ampunilah Sawdah bin Qais sebagaimana telah engkau ampuni Nabi-MU Muhammad." Tidak lama setelah peristiwa itu, Nabi menghembuskan nafasnya yang terakhir.
fiuuhhh....bersambung ke bagian 2..........