Tuesday, November 26, 2002



Edisi lanjutan kemaren .......

Intinya adalah bahwa secara substansial satu dan sama sebagai jantung dari setiap agama, tapi menjadi beragam dan plural ketika diturunkan dalam "atmosfir bumi", "alam eksoterik", atau "alam nasut" - meminjam istilah Mulla Shadra. Tapi, meskipun agama itu plural, toh semua (agama) itu dapat membawa manusia ke Sumber Asalnya, Tuhan.

Ada batas-batas secara diametral antara substansi agama dan pluralitas agama. Dalam kerangka ini, Frithjof Schuon, genius terbesar metafisika tradisional, memberikan sumbangan pemikiran yang sangat orisinal dalam memberikan penekanan (secara diametral) antara eksoterisme ("wilayah pluralitas agama") dan esoterisme ("wilayah jantungnya agama-agama").

Dalam kata pengantar buku berjudul; The Transcendent Unity of Religions, karya Frithjof Schuon, 1975, Huston Smith berkata bahwa "Bagi Schuon, hidup ini ada tingkat-tingkatannya - the hierarchy of existence, meminjam istilah E F Schumacher, atau Huston Smith memberikan istilah sebagai the great chain of being). Hierarki eksistensi ini, mulai dari Tuhan yang menempati peringkat tertinggi sampai manusia dan atau benda-benda mati pada peringkat terendah. Atau sebaliknya, hierarki eksistensi ini dimulai dari benda-benda mati yang berada di tingkat terendah, hingga Tuhan pada peringkat tertinggi. Dari segi metafisik, hanya pada Tuhanlah sebagai peringkat tertinggi, semua agama akan bertemu - "wilayah jantungnya agama-agama" - ... sedang di tingkat bawahnya, agama-agama itu saling berbeda ("wilayah pluralitas agama").

Sehubungan dengan realitas-metafisik itu, dari segi epistemologis, dapat pula dikatakan bahwa perbedaan antara agama yang satu dengan agama yang lain, semakin mengecil dan bersatu di tingkat tertinggi, sedangkan di tingkat bawahnya, berbagai agama itu terpecah belah. Itulah sebabnya, jantungnya agama-agama itu hanya berada pada tingkat esoteris, transenden, dan substansi. Tetapi, karena yang esoteris, transenden, dan substansi, hanya bisa berada dalam suatu "wadah" atau "bungkus", maka ia bersifat rahasia dan tersembunyi, tertimbun dalam simbolisme manusiawi. Maka seperti ungkapan metafor "siapa yang hendak mendapatkan kacang, dia harus mengupasnya." Esoterisme justru baru "terlihat" jika eksoteris-nya "dipecah”.