Happiness never decreases by being shared..
Thursday, November 28, 2002
Islam merupakan Rahmatan lil alamin ataw rahmat bagi seluruh alam semesta. Hal tersebut merupakan sebuah penegasan bahwa islam bukanlah sekedar bagi pemeluknya semata, namun lebih pada tingkat manusia sebagai sesama ciptaan Tuhan. Islam dengan sifatnya yang universal tidaklah terbatas atau terkotak-kotak pada satu daerah atau satu budaya semata (budaya Arab pada umumnya) mengingat bahwa agama atau keyakinan bersifat borderless.
Suatu fenomena yang berkembang saat ini adalah seringnya mencampuradukan antara budaya Arab dengan budaya islam dan lebih parahnya mengkultuskan dan melakukan pembenaran dengan menggunakan ayat² tanpa mengetahui pasti latar belakang datangnya ayat tersebut. Hal² seperti nasyid, qasidah, memelihara jenggot, ataw memakai sorban adalah budaya Arab, namun yang terjadi saat ini seakan hal² tersebut merupakan suatu budaya islam.
Islam berkembang pertama kali di jazirah Arab, tentu saja apa yang menjadi medium penyebaran pertama kali adalah budaya arab itu sendiri dan itu bukan suatu keharusan ketika setiap manusia di dunia untuk mengikuti budaya arab tersebut. Intinya adalah bahwa budaya Arab adalah medium dan Islam sendiri adalah intinya, karena telah ditegaskan bahwa islam adalah rahmatan lil alamin.
Dalam urusan pemerintahan pun, tidak ada suatu keharusan bahwa pemerintahan memiliki bentuk tertentu. Bentuk kekhalifahan tunggal seperti jaman Rosululloh SAW juga bukanlah suatu keharusan yang harus diikuti mengingat jaman terus berkembang dengan segala permasalahan. Sama juga dengan istilah negara islam yang saat ini sering digembar-gemborkan sebagai suatu solusi keluar dari krisis. Apapun bentuk negara jika baik negara agama, demokrasi, oligarki atau kerajaan sekalipun, jika konstitusi ataw konsensus yang ada tidak dijalankan, ya sama saja.
Agama adalah suatu ruang pribadi bagi setiap individu dan tidaklah tepat jika dilembagakan. Adanya pelembagaan agama justru menurunkan nilai sakral dari agama itu sendiri. Jika ada kesalahan yang terjadi pada lembaga tersebut, mau tidak mau pandangan orang akan melihat bahwa itu adalah ajaran dari agama tersebut, sementara kesalahan tersebut adalah semata² kesalahan orang yang menjalankannya. Kritik yang dilakukan terhadap lembaga ataw personal didalamnya pun menjadi seakan kritik terhadap agama tersebut. Jadi perlu ditegaskan bahwa kritik yang terjadi adalah kritik terhadap cara beragama, bukan pada agama.
Sudah saatnya mulai mengembalikan suatu hal sesuai pada peran dan posisinya yang sesuai. Pokok permasalahan adalah pada aturan main dan bagaimana menjalankan aturan main itu dengan baik. Walaupun aturannya kitab suci sekalipun, jika diselewengkan dan dimanipulasi, tepat saja tidak memberikan manfaat bahkan hanya menimbulkan kehancuran. Kepercayaan dan kecerdasan umat adalah yang utama. Jika ulama dan umaro sudah melupakan hal itu, mungkin tinggal menghitung mundur saat-saat terakhir kehancuran bangsa tersebut. Na'udzubillahi min dzalik.