Friday, November 15, 2002



KEPAHITAN teologis yang melahirkan sikap eksklusifisme secara historis sesungguhnya lebih mudah ditelusuri pada umat Yahudi dan Kristiani ketimbang umat Islam, meskipun akhir-akhir ini eksklusifisme dan radikalisme beragama juga menggejala di kalangan umat Islam. Sekarang ini wacana teologi di Barat bukan lagi berfokus pada hubungan Yahudi dan Kristen, melainkan tema pokoknya meluas pada Abrahamic Religions (Yahudi, Kristen dan Islam) yang berarti Islam tidak lagi dianggap sebagai agama palsu dan sempalan dari tradisi Semitik, melainkan diakui sebagai agama monoteisme yang valid, yang memiliki kemukjizatan dari Tuhan. Tentu ini suatu kemajuan besar dalam wacana keagamaan di lingkungan teolog Yahudi dan Nasrani.


Di samping Hans Kung, dua teolog lain yang berusaha mencairkan eksklusifisme teologi Kristiani adalah John Hick dan Paul F. Knitter yang aktif membangun dasar-dasar teologis bagi terciptanya sebuah iklim dialogis antar iman sehingga agama bisa berperan secara signifikan bagi perdamaian dunia, bukannya sebagai sumber kekacauan (Paul F. Knitter, One Earth Many Religions, 1995). Mereka ini mencoba melakukan redefinisi tentang konsep supersessionisme dari iman Kristiani terhadap Yahudi dan risalah Muhammad atas iman Kristiani.


Supersessionisme adalah suatu faham dan keyakinan doktrinal-teologis bahwa agama yang datang belakangan berfungsi mengabrogasi atau menggeser agama sebelumnya. Dalam tradisi agama-agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam), maka umat Yahudi yang pertama kali merasa jengkel dan marah atas klaim penganut agama Nasrani yang menganggap bahwa kehadiran Yesus berarti mengakhiri eksistensi dan keabsahan agama Yahudi.


Eksklusifisme teologis umat Kristiani terhadap agama Yahudi yang bersimbiose dengan eksklusifisme faham Arianisme di Jerman pada akhirnya telah memicu timbulnya konflik antar mereka dan puncaknya adalah keterlibatan sentimen teologis umat Kristiani Jerman sehingga sebagian dari mereka ikut mendukung holocoust dalam Perang Dunia ke-2 yang menelan korban ribuan umat Yahudi. Tentu saja Nazi bisa mengajukan alasan lain, misalnya dominasi politik-ekonomi oleh bangsa Yahudi, namun sulit dielakkan bahwa semangat supersessionisme ikut terlibat di dalamnya (Arthur E. Zannoni, Jews & Christians Speak of Jesus, 1994). Dan ketika Muhammad pada gilirannya mendakwahkan dirinya sebagai utusan Tuhan yang mengoreksi, menyempurnakan dan mengakhiri semua risalah Illahi yang pernah muncul sebelumnya, maka Islam sekaligus memperoleh dua tantangan, dari Yahudi dan Kristen. Lagi-lagi semangat supersessionisme yang eksklusifistik telah memperpanjang konflik berdarah antar umat beragama yang memuncak pada Perang Salib.


Keberatan teologis umat Yahudi menerima Yesus sebagai Sang Messiah, dan keberatan umat Kristen mengakui Muhammad sebagai utusan Tuhan yang terakhir, akan juga dirasakan oleh umat Islam ketika ada klaim munculnya nabi setelah kerasulan Muhammad. Hanya saja Islam diuntungkan dengan tiadanya klaim kemunculan agama baru yang memperoleh sukses besar sebagaimana klaim Kristen atau Islam setelah kemunculan agama Yahudi yang keduanya memperoleh pengikut yang besar.


Demikianlah, doktrin supersessionisme ini telah memperkukuh sikap eksklusifisme di kalangan umat beragama dan tentu saja sepanjang tidak merusak hak-hak umat lain untuk meyakini dan mengamalkan agamanya maka sikap ini bisa ditolerir. Bahkan bisa dikatakan bahwa setiap pilihan iman secara potensial memiliki kecenderungan untuk meng-exclude faham yang lain. Setiap orang beragama hendaknya yakin bahwa doktrin agamanya paling benar dan paling cocok buat dirinya serta paling menjanjikan jalan keselamatan, namun tidak berarti di luar tradisi agamanya tidak ada jalan keselamatan.

Demikian dulu Siraman Rohani Ramadlan kali ini....semoga Ustadz Deep'ink dapat segera hadir di tengah-tengah kita kembali. Amiiin.